Jayapura (ANTARA) - Setelah dinyatakan pembangunannya tuntas, Stadion Papua Bangkit sebentar lagi bakal difungsikan, namun sebelum diresmikan Menpora Imam Nahrawi mendapatkan kesempatan menjajal rumput lapangan stadion terbesar di wilayah timur Indonesia itu.

"Ayo kita coba dulu lapangannnya. Ada bolakan?," kata Menpora Imam Nahrawi usai meminjau langsung persiapan PON 2020 di Stadion Papua Bangkit, Sentani, Papua, Jumat.

Tantangan orang nomor satu di Kemenpora itu langsung sambut oleh Sekretaris Umum Persipura Rocky Bebena. Mereka langsung membawa bola menuju gawang sisi kanan dari tribun VVIP stadion yang bakal digunakan untuk pembukaan dan penutupan PON 2020.

Menpora dan Rocky Babena saling bergantian menggiring bola hingga adu tendangan pinalti dilakukan. Menpora terlebih dahulu menjadi penendang, saat bola masuk sorakan dari penonton langsung pecah.

"Ini sama dengan lapangan di GBK. Makanya ke depan, kejuaraan internasional harus bisa dibawa ke sini. Stadion Papua Bangkit harus jadi ikon di wilayah timur Indonesia," kata Menpora menambahkan.

Menpora selain mencoba rumput lapangan juga meninjau lokasi pertandingan yang berada di komplek Stadion Papua Bangkit yaitu Istora Papua Bangkit dan kolam akuatik. Keduanya saat ini masih dalam tahap pembangunan.

Untuk Istora yang pembangunannya dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), saat ini progres pembangunannya mencapai 29,081 persen dalam waktu delapan bulan.

"Saat ini on progres. Sesuai dengan jadwal. Sesuai dengan tahapan, pembangunan Istora bakal tuntas pada Juli 2020 nanti," kata perwakilan dari Kemenpupera yang juga ketua satker pembangunan istora dan kolam akuatik PON 2020, Anggoro Putro.

Setelah ke Istora, menpora dan rombongan juga meninjau pembangunan kolam akuatik. Progres pembangunannya sendiri baru 16 persen. Meski demikian, Anggoro optimistis pembangunannya bakal tepat waktu yang didasari dengan apa yang dilakukan saat Asian Games 2018.

Kolam akuatik sendiri tidak boleh dipandang sebelah mata karena tidak jauh beda dengan GBK. Yang membedakan hanya jumlah kolam yaitu tiga, sedangkan di GBK ada empat kolam. Fasilitas pendukung mulai dari panel hingga alat pencatatan waktu juga sama dengan GBK.

Baca juga: Stadion Papua Bangkit 100 persen siap untuk PON

Baca juga: Disorda klaim pembangunan Stadion Papua Bangkit capai 97 persen