Close sidebar

Aparat kawal ketat asrama mahasiswa Papua di Surabaya

Ilustrasi pengamanan oleh aparat kepolisian. (FOTO ANTARA News)
Surabaya (ANTARA News) - Sejumlah aparat gabungan dari Kepolisian Sektor (Polsek) Tambaksari Surabaya, Tentara Nasional Indonesia dan Satuan Polisi Pamong Praja di wilayah kecamatan setempat, melakukan pengawalan ketat terhadap sebuah rumah di Jalan Kalasan Surabaya, yang disebut sebagai asrama mahasiswa asal Papua.

Menurut Kapolsek Tambaksari Komisaris Polisi Prayitno pengawalan ketat tersebut dilakukan sebagai kelanjutan dari rencana operasi yustisi terhadap asrama tersebut sebagai penindaklanjutan laporan warga yang mencurigai aktivitas para mahasiswa di rumah tersebut.

"Semula tadi malam kami akan melakukan operasi yustisi kepada para penghuni di rumah ini namun mereka menolak," ujar Kompol Prayitno kepada wartawan di lokasi, Sabtu dini hari.

Informasi yang dihimpun polisi, selama ini para mahasiswa di rumah itu kerap menggelar diskusi yang dikhawatirkan merencanakan sesuatu yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tadi malam para mahasiswa di rumah itu dikabarkan menggelar kegiatan diskusi disertai pemutaran film yang diinformasikan bertema kekerasan di Biak.

Ketegangan antara mahasiswa yang menolak dioperasi yustisi dengan aparat sempat terjadi.

Anindya Shabrina, salah seorang mahasiswa asal Papua yang menghuni rumah tersebut, mengatakan menolak dilakukan operasi yustisi karena petugas tidak dapat menunjukkan surat penugasannya.

"Ini negara demokrasi. Malam ini kami berniat menggelar kegiatan diskusi tentang kekerasan di Biak," katanya.

Baca juga: Kontras protes soal penggeledahan asrama mahasiswa Papua

Baca juga: Mahasiswa Papua minta Freeport ditutup

Baca juga: Teten Masduki temui mahasiswa Papua di California

Baca juga: Papua Barat fokus tangani beasiswa luar negeri

Menurut Kompol Prayitno, operasi yustisi terhadap mahasiswa asal Papua di dalam rumah itu akhirnya memang tidak jadi dilakukan.

Namun polisi bersama aparat gabungan kemudian melakukan negosiasi agar kegiatan diskusi disertai pemutaran film tentang kekerasan di Biak di rumah itu tidak dilakukan. Mahasiswa menyepakatinya.

Kegiatan diskusi disertai pemutaran film kemudian diganti dengan nonton bareng pertandingan piala dunia.

Hingga dini hari ini, para mahasiswa terlihat menonton pertandingan piala dunia antara Brasil melawan Belgia dengan menutup rapat pagar rumahnya. Polisi bersama aparat gabungan tampak terus bersiaga melakukan penjagaan ketat rumah tersebut.

Editor: Gilang Galiartha

COPYRIGHT © ANTARA 2018