Yogyakarta (ANTARA News) - Pawai Jalanan yang diikuti 38 kelompok kesenian dari lima kabupaten/kota di DIY, Selasa sore, menandai dibukanya Festival Kesenian Yogyakarta ke-28.

Pawai Jalanan yang juga diikuti kelompok kesenian dari Kabupaten Gianyar, Provinsi Sumatera Utara, serta Provinsi Nusa Tenggara Barat itu dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X di kawasan Titik Nol Yogyakarta.

Dalam kemeriahan pembukaan seni tahunan yang menyita perhatian ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara di kota gudeg itu, pawai jalanan diawali dengan pertunjukan Tari Menak Golek Putri Karya Sri Sultan HB IX yang dibawakan Kemincis Art Dance.

"Dengan berbagai kegiatan seni ini, bisa kita rasakan bahwa kekuatan Yogyakarta terletak pada keberadaan seniman kreatif yang sekaligus mampu menggerakkan ekonomi kreatif," kata Sultan dalam sambutannya.

Salah satu kelompok kesenian yang tampil dalam pawai itu adalah Tedjo Badut yang menyuguhkan atraksi wayang orang dengan nuansa komedi. Wayang orang yang biasanya memerankan sebuah lakon, kali ini dengan menggunakan egrang, mereka berjoget berpantomim diiringi musik hip-hop.

Menurut Sultan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-28 itu menunjukkan bahwa sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1989 hingga kini masih banyak generasi muda yang peduli akan pelestarian seni dan budaya.

"Saya salut masih banyak pemuda yang peduli dengan budaya sendiri. Saya berharap FKY ini tetap terus berlanjut dan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Sultan.

Direktur Program Pertunjukan Ishari Sahida mengatakan FKY 28 yang akan tersentral di Taman Kuliner Condongcatur Sleman mulai 23 hingga 9 September 2016 dengan tema "Masa Depan, Hari Ini Dulu" akan menyuguhkan 16 acara kesenian yang terbuka untuk umum.

Selain Pasar Seni, FKY 28 juga akan dimeriahkan bioskop FKY, pameran perupa muda, teater FKY, diskusi seni FKY, konser musik elektronik, serta beragam kegiatan seni lainnya.

Tema "Masa Depan, Hari Ini Dulu", menurut dia, mencoba meneropong suatu masa, di detik, jam, tahun, bahkan abad mendatang dengan fenomena kebudayaan sebagai titik acu ide.

"Kami berharap apa yang kami suguhkan bukan hanya sebatas tontonan semata tetapi juga menjadi cara pandang dan pemicu partisipasi masyarakat mengenai masa depan kebudayaan," kata Ishari.