Jakarta (ANTARA News) - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Semen Baturaja Tbk menawarkan harga saham perdana (IPO) di kisaran harga Rp500-Rp685 per saham.

Deputi Menteri BUMN Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi Wahyu Hidayat di Jakarta, Rabu mengatakan perseroan akan melepas saham sebesar 2,337 miliar lembar saham atau sekitar 23,76 persen dari modal disetor.

Perseroan juga telah menerima dokumen Peraturan Pemerintah (PP) yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pekan lalu (24/5).

"Harga IPO saham Semen Baturaja Rp500-Rp685 per lembar saham," ujarnya.

Direktur Utama Semen Baturaja, Pamudji Raharjo mengemukakan rencana penawaran saham perdana (IPO) dijadwalkan pada 28 Juni 2013 mendatang.

Ia menambahkan rencana penerbitan saham perdana perseroan diperkirakan mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 18 juni 2013.

Pamudji mengungkapkan dana hasil IPO sekitar 70 persen akan dialokasikan untuk pembelian mesin dan peralatan utama, lalu 25 persen akan digunakan untuk pengadaan dan pengembangan lahan, dan sisanya sebesar lima persen untuk investasi peralatan elektronik, otomasi, serta biaya desain dan engineering.

PT Semen Baturaja menunjuk Bahana Securities, Danareksa Sekuritas, dan Mandiri Sekuritas sebagai penjamin emisi IPO. Sementara, masa penawaran awal (bookbuilding) akan berlangsung mulai tanggal 29 Mei-7 Juni. Apabila berjalan sesuai rencana maka penawaran umum berlangsung pada 20-24 Juni dan listing pada 28 Juni 2013.

Semen Baturaja saat ini memiliki tiga pabrik yang mempunyai kapasitas terpasang produksi sebesar 1.250.000 juta ton semen per tahun.

"Pada semester II 2013, kapasitas produksi diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 750.000 ton per tahun seiring dengan penyelesaian proyek `cement mill` senilai Rp350 miliar," kata Pamudji.

Ia menambahkan rencana pengembangan pabrik baru akan menambah output perseroan sebesar 1,85 juta ton per tahun dengan nilai investasi sebesar Rp2,65 triliun.

"Perseroan juga memiliki izin penambangan batu kapur yang dapat memenuhi kebutuhan bahan baku yang cukup untuk mendukung produksi selama lebih dari 50 tahun ke depan," katanya.