Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mendesak aparat kepolisian untuk mengusut dan menangkap pelaku penuusukan terhadap wartawan Viva News, Banjir Ambarita, pada Kamis dinihari di Kota Jayapura, Papua.

"Polisi harus menyelidiki siapa pelaku penusukan itu. Jangan sampai permasalahan ini dibiarkan begitu saja," kata Direktur Eksekutif LBH Pers, Hendrayana, kepada ANTARA News di Jakarta, Kamis.

Pasalnya, lanjut dia, berdasarkan informasi yang diterimanya terjadinya penusukan terhadap wartawan di Jayapura itu terkait pemberitaan.

"Wartawan Viva News tersebut telah memberitakan adanya oknum polisi yang melakukan pelecehan seksual terhadap tahanan wanita. Saya kira penusukan terhadap wartawan ada kaitannya dengan masalah pemberitaan yang telah ditulisnya," katanya.

Ia mengatakan, LBH Pers siap melakukan advokasi terhadap wartawan Banjir Ambarita, bila nanti dibutuhkan. "Saat ini kami tengah berkoordinasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Papua," katanya.

LBH Pers pun mengecam adanya kasus kekerasan yang kembali terjadi kepada wartawan.

Menurut dia, adanya kasus kekerasan yang sering menimpa jurnalis menunjukan kepolisian tidak serius dalam menangani kasus kekerasan terhadap jurnalis.

"Banyak kasus kekerasan jurnalis yang tidak diungkap siapa pelakunya. Adanya ketidakseriusan aparat penegak hukum ini, maka terjadi impunitas karena kekerasan terhadap jurnalis dinilai merupakan hal biasa," kata Hendarayana.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak main hakim sendiri, bila ada pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta.

"Masyarakat bisa menggunakan hak jawab mengenai berita yang dikomplainnya," katanya.

Banjir Ambarita, wartawan Viva News yang bertugas di Kota Jayapura, Papua, menderita luka-luka karena ditikam dengan benda tajam oleh orang tidak dikenal di kawasan Entrop, Jayapura Selatan, Kamis dinihari.

Akibat penusukan itu, Banjir mengalami luka serius di bagian perut sebelah kiri dengan kedalaman tiga centimeter panjang satu centimeter, serta luka tusuk di bagian dada sebelah kiri sedalam satu cm.

Ambarita, yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Marthen Indey, mengatakan bahwa penusukan itu terjadi ketika dirinya melintas di jembatan Entrop, tepatnya di depan Kantor Distrik Jayapura Selatan, sekitar pukul 02.15 Wita.

Saat itu dia dipepet dua orang tidak dikenal yang mengendarai sepeda motor jenis bebek, dan tiba-tiba melayangkan pisau ke arah tubuhnya dan melukai perut, serta dadanya.

Ketika ditanya soal ciri-ciri pelaku, korban menyatakan bahwa dari segi ciri fisik, pelaku bukanlah orang Papua asli, tetapi pendatang dan diduga merupakan orang suruhan atau bayaran.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polda Papua dan Polres Jayapura, dan aparat kepolisian setempat telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). (*)