Jakarta (ANTARA) - Seorang guru di Ende, Nusa Tenggara Timur Wilfridus Kado mengatakan dirinya memanfaatkan media sosial dalam melakukan pembelajaran saat pandemi COVID-19.

“Awalnya, saya berkunjung ke rumah-rumah siswa. Tapi banyak yang rumahnya kosong karena pergi ke kebun membantu orang tua,” ujar Wilfridus dalam dialog yang diselenggarakan Satgas COVID-19 memeringati “Hari Guru Nasional : Garda Guru Perangi COVID-19” di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Tanoto Foundation beri apresiasi 1.047 guru di Hari Guru Nasional 2020

Wilfridus yang saat ini masih berstatus guru honorer itu mengatakan setiap berkunjung ke rumah siswa, ia selalu membawa modul pembelajaran yang dibagikan ke siswa. Akan tetapi, karena banyaknya anak yang tidak ada di rumah, ia kemudian memutar otak.

“Akhirnya kami gunakan media sosial, yakni Facebook gratis. Di situ kami bisa melakukan pembelajaran,” tuturnya.

Meskipun demikian, ia tetap melakukan kunjungan ke rumah siswa. Jika bertemu orang tua, ia memberikan tugas ke orang tua siswa tersebut. Selain itu, ia juga menyelenggarakan pembelajaran di rumahnya.

Dalam kesempatan itu, ia menyambut baik adanya kebijakan pemerintah yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah daerah untuk membuka sekolah. Pembukaan sekolah dapat dilakukan asalkan dengan menerapkan protokol kesehatan, yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun dan menghindari kerumunan.

Baca juga: DPR minta pemerintah perjuangkan kesejahteraan guru honorer

Baca juga: GTT Jember tuntut perbaikan nasib di Hari Guru Nasional


Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, mengatakan selama pandemi COVID-19 perlu komunikasi yang intensif antara guru dan orang tua. Hal itu bermanfaat untuk mengurangi psikologis anak.

“Selain itu, guru hendaknya jangan memberikan tugas yang banyak, karena ini merupakan situasi yang tidak normal,” kata Satriwan.