Jakarta (ANTARA) - Korea Selatan ingin India tetap menjadi anggota Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), setelah Perdana Menteri Narendra Modi mempertimbangkan kembali keputusan New Delhi untuk bergabung dalam perjanjian ekonomi itu karena alasan domestik.

RCEP merupakan kesepakatan perdagangan yang melibatkan 10 negara anggota ASEAN serta enam negara mitranya yakni Jepang, Korea Selatan, China, India, Australia, dan Selandia Baru.

Perundingan berbasis teks RCEP telah disepakati oleh 15 negara anggota--kecuali India--di sela-sela KTT Asia Timur yang diselenggarakan di Bangkok, November 2019.

India mempertimbangkan untuk menarik diri dari RCEP sebelum pengesahan kesepakatan tersebut, yang ditargetkan pada November 2020, karena khawatir akan dampak tidak menyenangkan bagi kepentingan rakyat negara itu.

“Sejauh ini kami berharap India dapat bergabung,” kata Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom dalam taklimat media di Jakarta, Selasa.

Sebagai langkah nyata untuk menunjukkan komitmennya terhadap keberhasilan negosiasi RCEP, Wakil Menteri untuk Negosiasi Perdagangan Korea Selatan Yeo Han-koo telah berkunjung ke Jakarta untuk menjalin komunikasi langsung dengan ASEAN dan Indonesia sebagai penggagas dan pemimpin perundingan.

Dalam kunjungannya pekan lalu, Yeo bertemu dengan Sekretaris Jenderal ASEAN Lim Jock Hoi dan Ketua Perunding RCEP Iman Pambagyo, guna membicarakan langkah-langkah yang harus dilakukan agar tujuan RCEP disepakati tahun ini dapat terlaksana.

“Pendekatan serupa juga akan kami lakukan dengan India, agar pada akhir perundingan mereka memutuskan bergabung dalam RCEP. Pada saat bersamaan kami akan terus berhubungan erat dengan para perunding Indonesia dan teman-teman di ASEAN,” kata Dubes Kim.

Baca juga: Menlu Jepang tegaskan upaya menarik India ke dalam RCEP
Baca juga: Jose: RCEP mungkin dibahas dalam pertemuan India, ASEAN di New Delhi


Digadang-gadang sebagai kesepakatan perdagangan terbesar dunia, RCEP meliputi 33 persen produk domestik bruto (PDB) global, 29 persen perdagangan dunia, dan 48 persen populasi dunia.

Dari perspektif Korea Selatan, RCEP sangat penting untuk ekonomi berorientasi ekspor yang terganggu akibat perang dagang antara AS dan China serta penurunan industri global.

RCEP juga dianggap sesuai dengan Kebijakan Baru ke Arah Selatan yang diperkenalkan Presiden Moon Jae-in, yang bertujuan memperkuat hubungan strategis dan ekonomi Korea Selatan dengan negara-negara ASEAN.

Dilaporkan Kantor Berita Yonhap, ekspor Korea Selatan mencapai 542,4 miliar dolar AS tahun lalu, atau turun 10,3 persen dari tahun sebelumnya. Ini menandai pertama kalinya dalam 10 tahun ekspor tahunan negara itu turun dengan persentase dua digit.

Namun, di balik upayanya untuk mendiversifikasi portofolio ekspor, negara-negara Asia Tenggara menyumbang lebih dari 20 persen ekspor Korea Selatan tahun lalu, atau naik dari 19,1 persen pada 2018.

Baca juga: Menlu sebut negara RCEP tidak boleh tersandera sikap India
Baca juga: Sikap India dan masa depan RCEP