Jakarta (ANTARA) - Penelitian oleh perusahaan riset global asal Prancis, Ipsos menyebutkan, dari empat perusahaan dompet digital di Indonesia, Go-Pay mempunyai pengguna organik tertinggi dibanding lain, khususnya di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta.

"Responden Go-Pay sebanyak 54 persen menyatakan tetap akan memakai dompet digital itu meski tidak ada promo," kata Research Director Customer Experience Ipsos Indonesia, Olivia Samosir dalam keterangan resmi yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu.

Hal itu terungkap sebagai hasil dari penelitian terhadap generasi muda, khususnya milenial dalam menggunakan dompet digital. Penelitian berjudul “Evolusi Industri Dompet Digital: Strategi Menang Tanpa Bakar Uang”.

Penelitian itu merupakan kelanjutan riset Ipsos bertajuk “Indonesia-The Next Cashless Society” yang dipaparkan pada Ipsos Marketing Summit, 
Januari lalu.

Penelitian melibatkan 500 responden di lima kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Palembang dan Manado dengan metode wawancara tatap muka. Dominan responden yang didominasi oleh kalangan dari segmen milenial dan Generasi Z dengan kelas ekonomi menengah ke bawah yang memiliki potensi terbesar sebagai pengguna dompet digital.

"Penelitian ini dilakukan dari 20 Desember 2019 hingga 5 Januari 2020. 'Margin of error' dari penelitian ini adalah 2 persen," katanya.

Baca juga: Menyimpan uang di dompet digital, amankah?

Hasilnya antara lain mayoritas atau sekitar 68 persen dari generasi muda Indonesia menggunakan dompet digital minimal satu hingga dua kali dalam seminggu dengan rata-rata nilai pengisian ulang (top up) sebesar Rp140.663 setiap minggunya.

Sebagian besar dari mereka menggunakan dompet digital pertama kali untuk pembayaran jasa transportasi daring sebesar 40 persen dan jasa pesan-antar makanan minuman 32 persen.

"Berdasarkan penelitian ini, terdapat ada empat pemain utama di industri dompet digital, yakni Go-Pay, Ovo, Dana dan LinkAja," katanya

Hasilnya juga menemukan bahwa Go-Pay merupakan dompet digital yang paling banyak dikenal oleh generasi milenial dan Z sebesar 58 persen, disusul dengan Ovo (29 persen), Dana (9 persen) dan LinkAja (4 persen).

Baca juga: Dompet digital bantu Ridho "Slank" hemat Rp25 juta sebulan

Namun, kata Olivia, ada temuan terkait pengalaman generasi muda dalam mengadopsi dompet digital bahwa 71 persen dari generasi muda termotivasi untuk menggunakan dompet digital pertama kalinya karena adanya promo. Namun, seiring mereka terbiasa dengan kenyamanan yang ditawarkan dompet digital, loyalitas mereka tidak lagi ditentukan semata-mata oleh promo.

"Beberapa aspek yang diinginkan oleh konsumen dari dompet digital adalah kenyamanan 68 persen, promosi 23 persen dan keamanan 9 persen," kata Olivia.

Penelitian ini tergolong unik karena untuk pertama kalinya ditanyakan kepada mereka tentang kesediaan mereka untuk tetap menggunakan dompet digital tanpa promo.

Ternyata, 54 persen dari konsumen mengatakan akan tetap menggunakan Go-Pay meskipun tidak ada promo. "Sisanya, 29 persen akan tetap menggunakan Ovo, 11 persen tetap menggunakan Dana dan 6 persen menggunakan LinkAja," demikian Olivia.
Baca juga: Perluas layanan nontunai, LinkAja ekspansi ke desa
Baca juga: LinkAja gandeng JNE permudah pembayaran non-tunai jasa logistik

Pewarta: Edy Sujatmiko
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2020