Jakarta (ANTARA News) - Kurs rupiah, Senin pagi, merosot menyusul aksi spekulatif pelaku pasar dengan melepas rupiah setelah mata uang lokal itu menguat tajam hingga di bawah level Rp9.200 per dolar AS. Nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp9.220/9.230 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu Rp9.200/9.223 per dolar AS atau turun 20 poin. Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib, di Jakarta, Senin, mengatakan koreksi terhadap rupiah setelah menguat tajam dinilai cukup wajar. Pelaku pasar melepas rupiah untuk meraih keuntungan akibat terpicu oleh penurunan suku bunga Fed Fund bulan lalu yang turun tajam 1,25 persen menjadi 3 persen, katanya. Menurut dia, rupiah tertekan juga akibat masuknya Bank Indonesia (BI) ke pasar, yang menginginkan rupiah tetap berada di atas level Rp9.200 per dolar AS. BI memperkirakan rupiah pada level Rp9.200 per dolar AS cukup wajar untuk para eksportir maupun importir melakukan kegiatan usaha, katanya. Selain itu nilai tukar dolar AS terhadap yen menguat, menjadi 106,65 yen atau naik 0,1 persen yang memberikan tekanan negatif terhadap pasar domestik khususnya rupiah. Meski data pengangguran AS meningkat sebesar 18.000 orang yang memberikan tanda bahwa bank sentral AS (The Fed) akan kembali menurunkan suku bunganya. "Kami optims The Fed akan kembali menurunkan suku bunganya yang akan memicu kembali rupiah untuk menguat," katanya. Ia mengatakan, kenaikan rupiah saat ini juga bukan didukung oleh faktor fundamental ekonomi Indonesia, melainkan karena faktor eksternal seperti penurunan suku bunga Fedfund. Karena itu, kenaikan rupiah harus ditahan agar tidak terlalu cepat, karena kenaikan itu kurang menguntungkan dan tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, katanya. Karena itu, menurut dia penurunan rupiah saat ini dinilai cukup bagus dan diharapkan akan menjaga jarak rupiah sehingga berada pada posisi antara Rp9.200 sampai Rp9.250 per dolar AS. "Kami memperkirakan rupiah akan berada dalam waktu lama pada kisaran Rp9.200 hingga Rp9.250 per dolar AS sampai The Fed kembali menurunkan suku bunganya," katanya.

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2008