Singaraja (ANTARA) - Penyuluh Bahasa Bali di Buleleng menemukan lontar yang cukup langka saat melakukan konservasi lontar di Kelurahan Paket Agung, yakni Lontar Sesana atau lontar yang berisi ajaran tentang moral dan etika yang lengkap dengan terjemahan.

Koordinator Tim Konservasi Lontar Aliansi Penyuluh Bahasa Bali Ida Bagus Ari Wijaya atau Gus Ari di Singaraja, Selasa, mengatakan, salah satu lontar yang terbilang menarik adalah lontar berjudul Purwadhigama Sesana.

Lontar itu ditemukan di rumah Ketut Putu Astita, warga Lingkungan Paketan, Kelurahan Paket Agung, Buleleng. "Lontar ini ditulis dalam aksara Bali dengan bahasa Jawa Kuna, namun dilengkapi teks terjemahan dalam Bahasa Bali yang ditulis dengan aksara Bali," katanya.

Menurut Gus Ari, selama ini ia belum pernah melihat Lontar Sesana yang berisi teks terjemahan. Biasanya yang ada terjemahan itu Lontar Kakawin, Kidung, dan Geguritan. "Tapi untuk Lontar Sesana ini baru pertama kali saya temukan," katanya.

Di rumah keluarga Astita itu terdapat ratusan cakep lontar yang disimpan pada sebuah kamar dan tak pernah tersentuh selama bertahun-tahun. Beruntung, kondisinya relatif baik, meski penuh berdebu.

Pada saat Penyuluh Bahasa Bali melakukan konservasi, lontar yang berhasil diidentifikasi mencapai 78 cakep lontar. Masih ada puluhan cakep lainnya yang belum tuntas diidentifikasi. Koleksi lontar yang dimiliki keluarga ini pun terbilang lengkap.

Menurut Gus Ari, bila merujuk sistem katalog kirtya, lontar yang ada di keluarga ini masuk dalam kategori I sampai V. kategori I meliputi Puja dan Mantra, kategori II ialah Lontar Sesana, kategori III masuk dalam kelompok Lontar Wariga dan Usadha, kategori IV yakni lontar karya sastra berbentuk
Kakawin, Kidung, maupun Geguritan, serta kategori V berupa Babad.

Selain itu tim konservasi juga menemukan sebuah lontar yang usianya cukup tua. Lontar itu berjudul Pangawisesan Bhagawan Cintya Widhi. Lontar tersebut telah berusia 149 tahun. Isinya meliputi perlindungan diri atau proteksi secara niskala.

Pemilik lontar, Ketut Putu Astita, mengatakan lontar-lontar itu merupakan warisan dari leluhurnya. Ia pun tak pernah membukanya.

"Tidak pernah buka karena takut. Tapi setelah diberi penjelasan oleh penyuluh, kami persilakan dilakukan konservasi. Supaya kami juga tahu apa isinya," kata Astita.*


Baca juga: 1.000 siswa Bali ikuti Festival Nyurat Lontar Massal

Baca juga: Seminar Budaya Sukasada bahas eksistensi lontar

Pewarta: Naufal Fikri Yusuf/Made Adnyana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2019