Jakarta (ANTARA News) - Seakan tidak habis-habisnya panen padi di lahan pasang surut Banyuasin,  Sumatera Selatan. Setelah beberapa hari ini, luas panen padi di Banyuasin mencapai 700 hektare setiap harinya.

Panen padi pada Sabtu (20/01) tembus 1.000 hektare, yaitu mencapai 1.087,5 hektare sawah;   meliputi kecamatan: Muara Telang 498 ha, Air Salek 386 ha, Muara Sugihan 110 ha, Pulau Rimau 42 ha, dan sisanya 51,5 ha dari beberapa kecamatan lainnya.

Provitas yang dicapai bervariasi berkisar 5-7 ton GKP per hektar. Panen hari ini masih disambut dengan suka cita oleh para petani karena harga gabah masih bagus 4.400 – 4.600 per kg GKP, meskipun harga gabah tersebut sudah turun Rp500 dibandingkan  pada saat puncaknya yang mencapai Rp5.000 per kg di lokasi sawah, ungkap Didik staf Dinas Pertanian Kabupaten Banyuasin.

Menurut Dr. Priatna Sasmita Kepala BPTP Balitbangtan Sumsel, sebagian besar sawah di Banyuasin merupakan rawa pasang surut sehingga penataan tata air mikro melalui optimalisasi lahan menjadi sangat penting.

Provitas padinya terus meningkat dan bahkan beberapa kawasan melalui optimalisasi lahan bisa tanam padi dua kali (IP 200) bahkan tiga kali (IP 300) dalam setahun.

Petani di sini sangat responsif terhadap inovasi teknologi. BPTP-Balitbangtan saat ini tengah gencar mendiseminasikan teknologi spesifik lokasi kepada petani di lahan pasang surut Banyuasin, meliputi: penggunaan varietas padi adaptif  lahan rawa, teknologi pemupukan spesifik lokasi, teknik pengendalian hama tikus dan gerakan pengendalian OPT tanaman lainnya.

"Beberapa alsintan  seperti: amator merupakan alat tanam benih langsung yang dapat mempersingkat waktu tanam dan menghemat benih, serta mesin pengering padi (box driyer) turut diperkenalkan ke petani, dan sekarang sudah tersebar dan digunakan oleh petani secara luas," ujarnya.  

Berdasarkan pemantauan Prof. Dr. Risfaheri selaku penjab Upsus Kementan untuk Kabupaten Banyuasin, petani mulai was-was dengan harga gabah yang terus turun setiap harinya.

Pasalnya baru kali ini petani menikmati harga gabah yang sangat bagus, yang selama ini hanya pada kisaran HPP.

Pedagang pengumpul di petani pun merasa was-was dalam menentukan harga pembelian, karena kadang harga gabah di pengumpul besar di dermaga dalam satu hari bisa berubah.

Diperkiraan harga gabah seperti sekarang ini tidak akan bertahan lama, karena bulan Februari sudah banyak daerah lain yang panen.
"Petani-petani yang menikmati harga gabah bagus saat ini adalah petani yang mengikuti anjuran Program Upsus untuk melakukan percepatan tanam di bulan September yang lalu, dan sekarang menikmati hasilnya," ungkapnya.

Melihat perkembangan panen yang terus meningkat setiap hari di Banyuasin, optimis pasokan beras di Sumsel tejamin.

"Semuanya ini tidak terlepas dari kerjasama semua pihak, baik penyuluh, petugas dinas pertanian kabupaten dan provinsi, babinsa, tim Upsus, dan terutama sekali para petani sebagai pelaku utama dalam mensukseskan program swasembada pangan ini," pungkas Prof. Risfaheri.

Pewarta: Antara
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018