Kabul (ANTARA News) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise berharap perempuan Afghanistan dapat berperan sebagai mediator dalam penyelesaian konfilk sosial dan sebagai juru damai dalam konflik internal maupun internasional.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara utama pada simposium "Afghan Women, Messengers of Peace" di Kabul, Afghanistan, Senin.

"Dalam situasi darurat akibat konflik perempuan biasanya menjadi korban, tetapi perempuan juga dapat berperan penting sebagai agen yang menyuarakan penyelesaian persengketaan melalui perdamaian," kata Yohana.

Dia mengatakan perempuan yang menjadi kombatan, pemimpin agama, dan aktivis dapat berkontribusi menyumbang kegiatan sosial ketika konflik dengan cara mereka masing-masing untuk mendukung perdamaian.

Sayangnya, peran-peran perempuan ini masih sering luput dari narasi tentang konflik dan perdamaian.

"Peran perempuan sebagai perunding perdamaian harus mendapatkan ruang publik yang adil dalam konteks partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa," tuturnya.

Menurut dia, tidak seluruh konflik sosial dapat diselesaikan oleh laki-laki, ada juga peran perempuan yang besar demi terciptanya perdamaian.

Dia mencontohkan pada 2000 ada seorang tokoh perempuan Aceh bernama Suraiya Kamaruzzaman yang bersama tokoh lainnya berbicara di beberapa negara di Erpoa dan PBB untuk menyampaikan situasi di Aceh pada saat itu.

"Misi diplomasi seperti ini relatif berhasil menggugah perhatian dunia yang kemudian memberikan perhatian dan memediasi persoalan konlfik yang terjadi di Aceh," ujar Yohana.

Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan keluarga adalah lingkungan paling pertama untuk menanamkan nilai-nilai perdamaian.

Indonesia juga bersedia membantu Afghanistan untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan, salah satunya dengan membagi pengalaman Indonesia dalam meningkatkan kapasitas dan mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui musik.

"Kami melakukan berbagai kampanye antikekerasan terhadap perempuan melalui musik. Musik adalah media yang paling gampang diterima oleh semua kalangan," kata dia.

Setelah bulan Ramadhan, Indonesia akan mengundang delegasi Afghanistan untuk mempelajari secara detail program-progam pemberdayaan perempuan.

Pada kesempatan yang sama Ibu Negara Afghanistan Rula Ghani yang juga menjadi insiator simpsoium tersebut mengatakan acara tersebut diselenggarakan untuk mendengar suara para perempuan yang selama ini menjadi korban dari konflik yang berkepanjangan di negara tersebut.

"Inilah saat kita mendengar dan perempuan berbicara bahwa perang harus dihentikan. Kita di sini berkumpul untuk mencari solusi untuk menghentikan kekeransan," imbuhnya.

Ada sekitar 205 perempuan ikut simposiun tersebut yang merupakan perwakilan aktivis dan korban dari seluruh profinsi di Afghanistan.


Baca juga: (Menteri Yohana kunjungi Afghanistan)

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2017