Ankara (ANTARA News) - Perdana Menteri Turki Ahmet Davatoglu pada Rabu menegaskan bahwa pemerintahannya tidak ingin memicu ketegangan dengan "sahabat" Rusia, tepat satu hari setelah Ankara menembak jatuh pesawat tempur Rusia di perbatasan Suriah.

"Kami tidak berniat merusak hubungan dengan Federasi Rusia. Rusia adalah sahabat kami dan negara tetangga kami," kata Davatoglu dihadapan anggota parlemen dari partainya.

Sebelumnya pesawat F-16 milik Turki menembak jatuh jet tempur Rusia yang dianggap melanggar kedaulatan udara di daerah sekitar perbatasan Suriah. Aksi tersebut kemudian memicu reaksi keras dari Moskow dan membuat Presiden Vladimir Putin memperingatkan bahwa Ankara akan menghadapi konsekuensi yang besar.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga membatalkan kunjungannya ke Turki, sementara Putin menyeru agar warganya tidak mengunjungi negara tersebut.

Davatoglu sendiri menerangkan bahwa pesawat Rusia yang melanggar kedaulatan wilayah udara Turki terpaksa ditembak jatuh karena dinilai sebagai "ancaman." Namun di sisi lain dia mendesak agar kedua pihak segera meredakan ketegangan mengingat Moskow adalah salah satu rekan dagang terbesar Ankara.

"Kami mempunyai hubungan kuat di bidang ekonomi, komersial, dan budaya dengan Rusia," kata dia sambil menambahkan bahwa saluran hubungan komunikasi dengan Moskow masih terbuka lebar.

Tetapi di sisi lain dia juga menegaskan bahwa Turki mempunyai hak untuk melindungi daerah perbatasan dan juga keamanan nasional.

"Turki tidak pernah mengganggu wilayah negara lain. Tidak benar bahwa kami telah menarget Rusia ataupun negara-negara lain," kata Davatoglu seperti dilansir AFP.

(Uu.G005)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2015