New York (ANTARA News) - Harga minyak merosot untuk hari ketiga berturut-turut pada Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah laporan pasar pekerjaan AS yang bergairah atau "bullish" mengirim dolar naik tajam.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember, turun 91 sen menjadi menetap di 44,29 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange dibandingkan sehari sebelumnya.

Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember, turun 56 sen menjadi berdiri di 47,42 dolar AS per barel.

Harga minyak mentah merosot setelah AS merilis laporan ketenagakerjaan Oktober yang secara mengejutkan lebih kuat dari perkiraan, menunjukkan ekonomi masih tumbuh pada tingkat kuat, dengan tingkat pengangguran turun menjadi 5,0 persen didukung penciptaan 271.000 lapangan pekerjaan baru, hampir dua kali lipat jumlahnya dari September.

Itu memicu harapan tinggi bahwa Federal Reserve AS akan meningkatkan suku bunga pada Desember, pada gilirannya mendorong greenback naik 1,2 persen terhadap euro dan 1,1 persen terhadap yen menutup satu pekan dengan keuntungan kuat.

Karena harga minyak mentah dalam dolar, kenaikannya memperlemah daya beli mereka yang menggunakan mata uang lainnya.

"Pasar sudah menggambarkan kita akan mendapatkan kenaikan suku bunga, angka-angka mendukung pendapat itu," kata Andy Lipow dari Lipow Oil Associates.

Penurunan lainnya dalam hitungan rig di Amerika Utara dari perusahaan jasa minyak Baker Hughes sedikit menopang harga. Hitungan, yang mengukur aktivitas pengeboran di Amerika Serikat dan Kanada, jatuh pada minggu lalu menjadi 956 rig, turun 10 rig dari seminggu sebelumnya dan lebih rendah dari 1.379 setahun yang lalu.

Sementara itu AS secara resmi menolak proyek pipa Keystone XL yang dimaksudkan untuk mengalirkan lebih banyak minyak mentah dari Kanada Selatan menuju kilang-kilang penyulingan di Teluk Meksiko.

Penolakan itu tidak mengejutkan setelah penundaan bertahun-tahun, tetapi mengirim harga saham pemilik jaringa pipa TransCanada turun 4,6 persen, demikian seperti dikutip dari AFP.

(Uu.A026)

Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2015