Jakarta (ANTARA News) - Hal pertama yang dilakukan Hasri Ainun Besari sebelum berangkat ke Jerman untuk mengobati penyakit yang menggerogoti tubuhnya adalah menuliskan resep obat untuk sang suami, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Tanggal 22 Mei 2010, ketika terbaring di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat di Jerman, pada saat-saat terakhirnya, perempuan berusia 72 tahun itu pun hanya memikirkan kesehatan sang suami.

Ainun, perempuan yang membuat Habibie jatuh cinta pada pandangan pertama, setia menemani hari-hari senang dan susah Habibie sejak pernikahan mereka pada 12 Mei 1962.

Setelah Ainun tiada, Habibie berusaha mengobati kerinduannya kepada sang istri dengan menuliskan kembali semua yang dia lewati bersama Ainun selama 48 tahun 10 hari kebersamaan mereka dalam buku "Habibie & Ainun."

Produser Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjabi, bersama sutradara Faozan Rizal, berusaha memutar kembali perjalanan cinta Ainun dan Habibie dengan menuangkan memoar Habibie ke dalam sebuah film.

Dalam film berjudul "Habibie & Ainun", aktor Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari menjadi Habibie dan Ainun.

Reza dan Bunga merekonstruksi masa-masa awal kehidupan Habibie dan Ainun membina rumah tangga dalam perantauan di Jerman, saat Habibie kembali ke Tanah Air dan mengabdikan diri kepada negara sebagai menteri hingga presiden, hingga pada masa-masa terakhir kebersamaan mereka.

Pembuat film berusaha menggambarkan rajutan kisah Habibie dan Ainun sejak tahun 1960-an hingga 2010 dengan adegan-adegan berlatar masa lalu, termasuk menyesuaikan gaya busana dan tata rias para pemainnya.

Sayangnya tata rias hanya membuat wajah para aktor berkerut, kulit dan tubuh mereka masih tampak kokoh, tidak bertambah ringkih seperti layaknya orang berusia lanjut yang hidup dengan gangguan kesehatan.

Produk sponsor yang beberapa kali muncul di layar juga cukup mengganggu, membuat penonton yang belum membaca buku "Habibie & Ainun" makin sulit merasakan perjalanan cinta yang seharusnya indah dan mengharukan.

Meski demikian usaha sang sutradara memasukkan cuplikan dokumentasi asli kejadian ke dalam film cukup mampu menghidupkan cerita, memindahkan sedikit rasa ke penonton.

Dokumentasi asli yang ikut menghiasi film berdurasi sekitar dua jam itu antara lain penerbangan perdana pesawat buatan anak negeri N-250 Gatot Kaca pada 10 Agustus 1995, saat Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi.


Kesulitan mendapuk

Zaskia Adya Mecca, sang pengarah peran, mengaku kesulitan mencari aktor yang perawakannya mirip Habibie untuk film itu sampai akhirnya memutuskan mendapuk Reza untuk memerankannya.

"Reza secara fisik memang bukan Pak Habibie, tapi dia bisa menyerupai Pak Habibie," katanya usai pemutaran perdana film "Habibie & Ainun" di Jakarta pada Senin (17/12), yang antara lain dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Demi mendalami perannya, selama sekitar lima jam Reza berbincang-bincang dengan Habibie untuk mengenal sosok sang teknokrat.

"Ini sebuah tanggung jawab besar, dan kepercayaan yang diberikan bukanlah tanpa alasan," kata Reza tentang perannya.

Usaha Reza meniru gerak-gerik hingga cara bicara Habibie yang khas mendapat pujian dari keponakan BJ Habibie, Adrie Subono.

"Reza mainnya sangat bagus, Reza berjalan, berbicara persis dengan Pak Habibie, jempol bener," katanya.

Habibie pun mengapresiasinya. "Saya punya cucu umur empat dan enam tahun, dia bilang 'kayak eyang', dia nggak bisa bohong," kata Habibie.

Namun Bunga mengaku kesulitan menampilkan sosok Ainun karena tidak pernah mengenal langsung Ainun dan tidak punya banyak referensi tentang Ainun.

Bunga hanya bisa berkonsultasi dengan Habibie yang kerap ikut mengawasi pengambilan gambar untuk sebisa mungkin menampilkan sosok Ainun.

"Setiap adegan aku selalu tanya, 'Eyang ini udah bener belum? Udah sesuai belum?' Itu aja yang jadi pegangan," kata Bunga.

Menurut Produser Manoj Punjabi, Habibie terlibat langsung dalam proses pembuatan film "Habibie & Ainun". Habibie mengawasi langsung pengambilan gambar untuk memastikan tak ada fakta yang melenceng dalam film.


Optimisme

Film "Habibie & Ainun" akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia mulai 20 Desember 2012. Manoj optimistis film itu akan menuai sukses dan berambisi memperkenalkannya ke manca negara.

"Saya tidak mau sia-siakan film sebesar ini, saya nggak bakal hanya marketing ke Indonesia, saya mau bawa ke luar negeri," kata Manoj.

Dia berencana memasarkan "Habibie & Ainun" ke Singapura, Jepang, Jerman, dan Malaysia.

"Animonya ada dari sana, saya yang harus jual produk saya supaya diterima dan dipasarkan dengan baik," katanya.

Di Indonesia, film "Habibie & Ainun" sudah mendapat tanggapan positif dari sebagian penonton. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menyaksikan penayangan perdana film itu di Jakarta pun memujinya.

"Ini film yang bagus, saya sangat menikmati menontonnya," kata Anwar setelah menyaksikan "Habibie & Ainun".

(nan)

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2012