Jakarta (ANTARA News) - PT Pertamina (Persero) akan membuka 10 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) jenis biodiesel di wilayah Jakarta hingga akhir tahun 2006. Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya usai sosialisasi biosolar --nama dagang biodiesel milik Pertamina-- di Jakarta, Selasa mengatakan, pada tahap awal, biosolar akan dijual di empat SPBU. "Selanjutnya, bertambah hingga 10 SPBU hingga akhir tahun ini. Tahun 2007, akan diperluas di kota-kota besar lainnya," katanya. Empat SPBU biodiesel yang akan mulai buka pada 20 Mei adalah di Jalan Industri, Kemayoran, Jalan Simatupang, Jalan Tendean, dan Jalan Minangkabau. Menurut Hanung, Pertamina menargetkan penjualan biosolar di setiap SPBU mencapai 10.000 liter. Biosolar yang dijual Pertamina merupakan campuran lima persen "fatty acid methyl ester" (FAME) dan 95 persen solar bersubsidi atau biasa disebut B5. Senyawa FAME terbentuk melalui reaksi transesterifikasi antara minyak nabati dengan alkohol yang bisa berupa etanol atau metanol. Saat ini, FAME masih dipasok dari PT Eterindo. Selanjutnya, Pertamina bersama PT Rekayasa Industri akan membangun pabrik bahan baku biodiesel. Hanung melanjutkan, untuk sementara, harga jual biosolar ditetapkan Rp4.300 per liter atau sama dengan solar bersubsidi. Padahal, menurut dia, seharusnya harga jual biosolar lebih tinggi dari solar bersubsidi. Sebab, Pertamina membeli FAME dengan harga Rp4.700 per liter yang kalau ditambah pajak dan marjin menjadi Rp5.585 per liter. "Karenanya, kita meminta dukungan pemerintah," katanya. Hanung mengatakan, pemerintah bisa meminta angkutan umum khususnya bus agar menggunakan biosolar. Pertamina menargetkan setengah konsumsi solar transportasi secara nasional yang dalam 3-4 tahun ke depan mencapai 15 juta kiloliter menggunakan biosolar. "Kalau komposisi B5 maka dengan pemakaian biosolar 3-4 tahun ke depan mencapai 7,5 juta kiloliter maka konsumsi solar bersubsidi bisa berkurang 375 ribu kiloliter, sehingga impor solar juga pasti berkurang," katanya. Hanung menambahkan, Pertamina juga menyediakan biosolar bagi kepentingan industri dan pembangkit listrik yang akan dijual dengan harga pasar. Biosolar tersebut nantinya menggunakan campuran solar non subsidi. "Namun, sejauh ini belum ada permintaan dari industri," ujarnya.(*)

Editor: Heru Purwanto
Copyright © ANTARA 2006