Kota Bengkulu (ANTARA) - Salah satu program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yakni Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) membuat para mahasiswa semakin mengenali keberagaman dan budaya yang ada di Indonesia.

Paulinus Paur, mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Jawa Timur, yang saat ini sedang mengikuti PMM di Universitas Muhammadiyah Bengkulu, menceritakan antusiasmenya terhadap program tersebut untuk mempelajari lebih dalam tentang makna toleransi.

"Saya sebagai mahasiswa Nasrani, saya memilih Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini karena keturunan kami itu keturunan Muslim. Bapak saya bilang kamu harus memilih kampus yang Muslim untuk mengenal toleransi tentang agama Islam," katanya saat ditemui di Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Selasa.

Mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu juga menceritakan kekagumannya terhadap Bahasa Bengkulu dan keramahan masyarakat Bengkulu terhadap orang-orang sekitarnya.

Sebagai informasi, bahwa dalam menjalankan PMM Universitas Muhammadiyah Bengkulu telah melakukan beberapa kegiatan untuk merealisasikan Modul Nusantara.

Kegiatan-kegiatan itu adalah mengunjungi Sekolah Patria Dharma, Rumah Soekarno, Rumah Fatmawati, Benteng Marlborough, Kampung China, Museum Nasional Bengkulu, Sekolah Langit Biru, Berendo Bengkulu, Tugu Thomas Parr, dan Ka Ga Nga Institut.

Selain itu, mahasiswa juga diajak mengenali seni tari atraksi musik Doll, belajar melukis, belajar membuat batik besurek Bengkulu, dan mengunjungi bunga raflesia.

"Yang paling seru buat saya itu mengunjungi bunga raflesia, karena saya jurusan biologi. Dan yang menarik minat saya itu juga karena ada bunga rafflesia ini," ujar Paulinus.

Sementara bagi Aresti Polinda, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Bengkulu yang mengikuti PMM di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo Malang pada Oktober 2021 hingga Januari 2022, program tersebut membuat dia mengenal Batik Malangan.

"Kami belajar membuat batik. Batik tulis ternyata sulit, tidak semudah yang kita bayangkan. Wajar harga batik tulis mahal karena untuk mengapresiasi jasa orang yang membuat batik itu yang memang sulit," ujar Aresti.

Selain itu, ia mengatakan program tersebut juga menjadikannya aktif melakukan kegiatan sosial dan mengadaptasi kegiatan positif tersebut agar dapat dilakukan juga di kampus asalnya.

"Di sana kami mengunjungi museum dan selalu ada kegiatan kontribusi sosial juga, Kami bersama organisasi anak muda di sana ada kegiatan namanya Gerakan Angkut Sampah (GAS). Kami melakukan kebersihan di lingkungan dekat Ciliwung. Dari situ saya implementasikan di sini, melakukan Gerakan Memungut Sampah (GEMPA) di sekitaran Pantai Panjang," kata Aresti.

Melihat manfaat PMM yang begitu baik terutama bagi mahasiswa, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bengkulu Kasmiruddin berharap program tersebut dapat terus berlanjut.

"Program ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Ketika mahasiswa ikut pertukaran, tentu dia mendapatkan soft skill dan hard skill dan tentu akan sangat bermanfaat," ujar Kasmiruddin.

Baca juga: MBKM perkuat bidang keilmuan yang dimiliki mahasiswa

Pewarta: Suci Nurhaliza
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2022