Digitalisasi memainkan peran penting dalam mempercepat kemajuan menuju pencapaian Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan)
Badung (ANTARA) - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) kembali menegaskan pihaknya mendukung pengembangan pertanian digital (e-agrikultur) di Indonesia.

Direktur Jenderal (Dirjen) FAO Qu Dongyu dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di sela-sela Pertemuan Menteri Pertanian (AMM) G20 di Bali, Selasa, menyampaikan dukungan itu diberikan misalnya dalam tata kelola data pertanian dan penggunaan informasi geospasial.

“Digitalisasi memainkan peran penting dalam mempercepat kemajuan menuju pencapaian Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) dengan mendiversifikasi pendapatan dan membuka lapangan kerja dan peluang bisnis di dalam dan di luar pertanian, terutama bagi generasi baru petani dan kaum muda,” kata Dirjen FAO Qu Dongyu.

Dalam kesempatan yang sama, Qu juga memuji Ruang Kontrol Pertanian (Agriculture War Room) di Indonesia, yang menunjukkan manfaatkan penggunaan teknologi digital dalam pembuatan kebijakan yang berbasis data.

Dalam sesi berbeda, yaitu selepas pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian RI, Dirjen FAO menyampaikan pihaknya telah membina kerja sama dengan Indonesia dalam waktu kurang lebih 30 tahun.

Ia menyampaikan FAO bakal memperkuat kerja sama itu melalui kemitraan dengan berbagai kelompok masyarakat, termasuk para peneliti.

“Terkait itu, kami bersedia untuk memberi dukungan untuk pengelolaan big data, teknologi-teknologi baru, dan jaringan global FAO. Kami ingin membantu Indonesia agar dapat menjadi yang terdepan,” kata dia menjawab pertanyaan ANTARA.

Sementara itu, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menyampaikan dalam pertemuan bilateral dengan FAO pihaknya menunjukkan kebijakan dan strategi memperkuat ketahanan pangan di dalam negeri.

Ia juga menyebut FAO bakal memberi pendampingan, terutama mengirim para ahlinya, untuk memperkuat sektor pertanian di Indonesia, termasuk yang terkait dengan food estate.

“(Bantuan FAO itu akan diberikan) dalam waktu yang singkat (dekat),” kata Syahrul menjawab pertanyaan ANTARA terkait implementasi rencana pengiriman para ahli tersebut.

Indonesia menjadi anggota FAO sejak 1948, dan kantor perwakilan badan pangan PBB itu berdiri pada 1978.

Hingga saat ini, ada lebih dari 650 proyek dan program FAO yang diterapkan di Indonesia dengan dukungan lebih dari 1.600 tenaga ahli dan konsultan dari dalam negeri dan asing.

Baca juga: Kementan dan FAO kaji penyebab terbuangnya pangan di Indonesia
Baca juga: FAO dan IRRI akui ketahanan pangan Indonesia tangguh saat dunia krisis
Baca juga: Menteri Trenggono Bawa Agenda Ekonomi Biru Indonesia di Sidang COFI FAO Ke-35

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2022