New York (ANTARA) - Dolar melonjak ke level tertinggi hampir 16 bulan terhadap euro dan mata uang lainnya pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), setelah data inflasi AS terpanas dalam 30 tahun mendorong spekulasi bahwa Federal Reserve akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari perkiraan.

Berita pada Rabu (10/11/2021) bahwa harga-harga konsumen AS naik bulan lalu pada laju tahunan tercepat sejak 1990 memicu spekulasi bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan ketika para pedagang mempertanyakan pendiriannya bahwa inflasi tinggi saat ini adalah "sementara."

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya tampak bersiap untuk kenaikan hari kedua berturut-turut, menyentuh 95,197, tertinggi sejak 22 Juli 2020. Terakhir indeks menguat 0,36 persen pada 95,1630.

Euro melemah 0,28 persen pada 1,1446 dolar AS setelah mencapai 1,1430 dolar AS, terendah sejak Juli 2020.

“Rasanya seperti kita masih memperdagangkan dampak IHK (indeks harga konsumen),” kata Vassili Serebriakov, ahli strategi valas di UBS di New York.

Baca juga: Dolar menguat ke tertinggi 2021 di Asia, dipicu Inflasi AS yang tinggi


“Jalur resistensi paling kecil dalam jangka pendek tampaknya dolar lebih tinggi. ... Inflasi yang lebih kuat melemahkan narasi sementara, yang berarti The Fed mungkin perlu melakukan pengetatan lebih cepat.”

Taruhan terkait inflasi hari kedua dan penutupan pasar obligasi AS untuk liburan Hari Veteran kemungkinan mengurangi volume perdagangan dan meningkatkan volatilitas harga, kata Joseph Trevisani, analis senior di FXstreet.com, situs web yang mengikuti pasar-pasar keuangan.

“Umumnya ketika pasar obligasi ditutup, ada lebih sedikit likuiditas dan Anda cenderung mendapatkan pergerakan yang lebih berlebihan karena ada lebih sedikit likuiditas untuk menyerap pergerakan tertentu,” katanya.

Sterling turun 0,31 persen pada 1,3363 dolar AS setelah mencapai 1,3359 dolar AS, terendah sejak Desember 2020. Data yang menunjukkan ekonomi Inggris tertinggal dari saingannya pada periode Juli-September tidak banyak membantu.

Greenback terakhir naik 0,15 persen terhadap yen Jepang, diperdagangkan dalam kisaran 113,81 yen hingga 114,15 yen pada siang hari setelah mata uang AS naik tajam pada Rabu (10/11/2021).

Dolar mencetak kenaikan hari kedua berturut-turut terhadap mata uang safe haven lainnya, franc Swiss, bertahan naik 0,40 persen pada 0,9217 dolar AS.

Baca juga: Dolar menguat, lonjakan inflasi AS picu spekulasi kenaikan suku bunga


Anggota dewan gubernur Swiss National Bank (bank sentral Swiss) Andrea Maechler mengatakan pada sebuah acara Kamis (12/11/2021) malam bahwa franc Swiss tetap diminati karena investasi safe haven dengan ketidakpastian pasar yang meningkat akibat pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung.

Dolar Australia dan Selandia Baru ditarik lebih rendah oleh kekuatan dolar AS. Aussie terakhir turun 0,46 persen pada 0,7291 dolar AS setelah mencapai level terendah sebulan di 0,7287 dolar AS dan Kiwi Selandia Baru turun 0,54 persen menjadi 0,7019 dolar AS setelah mencapai level terendah sejak 14 Oktober.

Lira Turki jatuh ke rekor terendah 9,975 terhadap dolar setelah pembacaan inflasi AS, dan meningkatnya ekspektasi bahwa Turki akan segera menurunkan suku bunga lagi.

Dalam mata uang kripto, Bitcoin naik 0,2 persen pada 65.053,95 dolar AS setelah mencapai rekor intraday 69.000 dolar AS pada Rabu (10/11/2021).


Baca juga: Saham Asia merosot, dolar bersinar saat kekhawatiran inflasi meningkat

Baca juga: Dolar melemah 3 hari beruntun, dekati terendah 1 bulan terhadap yen

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Subagyo
Copyright © ANTARA 2021