Bogor (ANTARA News) - Dosen Institut Pertanian Bogor, Dr. Sri Estuningsih, mengaku bahwa tidak mengira penelitiannya terkait bakteri E. Sakazakii dalam susu formula ternyata menjadi polemik.

Terlebih setelah adanya keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memerintahkan pihak IPB harus mengungkapkan merek-merek produk yang menjadi sampel penelitiannya tersebut.

"Terus terang saya tidak membayangkan akan ada perkembangan seperti ini. Sebagai peneliti saya lurus-lurus saja, saya sementara ini hanya memantau apa yang sedang bergulir," kata Estuningsih ketika ditemui Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jumat.

"Sebagai manusia biasa, saya juga ada perasaan sedih. Kenapa kita mau berbuat baik susah sekali. Dari awal keinginan saya adalah ingin menyampaikan yang baik melalui sisi keahlian saya, meski sekecil apa pun," kata pakar patologi dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB tersebut.

Sebagai peneliti, Estuningsih juga merasa sudah menjalani prosedur yang seharusnya. Termasuk dalam mempublikasikan hasil-hasil penelitianya melalui jurnal-jurnal ilmiah, dan melakukan presentasi dalam forum-forum internasional.

Sebagai bentuk pertanggung jawaban moral kepada masyarakat, ia juga sudah menyampaikan hasil temuannya itu kepada perusahaan terkait agar produsen susu tersebut dalam melakukan perbaikan produknya.

Estuningsih menceritakan bahwa pada awalnya penelitianya di tahun 2003 sebenarnya bukan untuk mencari bakteri E.Sakazakii yang berbahaya bagi manusia tersebut, namun ingin melihat kualitas mikrobiologi seperti apa yang ada di makanan, dan sudah seberapa bagus produk makanan yang ada di Indonesia.

Dalam perjalanan penelitiannya itulah kemudian ia menemukan banyak bakteri E Sakazakii dan hal tersebut cukup menarik perhatian.

"Waktu itu bakteri Sakazakii belum begitu familiar dalam bidang kami, jadi kami pun membuka-buka jurnal dan situs-situs, ternyata memang menarik, karena di luar negeri terutama di AS, sejak tahun 1980-an sudah ramai orang melakukan penelitian mengenai sakazakii karena bakteri itu bisa menyebabkan radang otak serta radang usus," katanya.

Sebagian besar laporan kasus yang umumnya ditulis oleh kesehatan anak. Mereka melaporkan bahwa kejadiannya umumnya terhadap anak yang masuk dalam di Neonatal Intensive Care Unit -- semacam IGD, untuk bayi yang baru lahir.

Dari laporan peneliti luar negeri itu kemudian disimpulkan bahwa bakteri sakazakii dapat menjangkit bayi yang memiliki kondisi tertentu, seperti yang usianya belum satu bulan, lahir prematur, berat badan rendah di bawah 2,5 kg, bayi yang sistem pertahanan tubuhnya lemah, dan bayi yang ibunya mengidap HIV.

"Dari situlah saya mlihat bahwa bakteri sakazakii ini berbahaya dan akan lebih berbahaya jika dia ada di dalam susu formula, karena kontaknya dengan bayi pada awal umur," kata Estuningsih yang pada tahun 2001 meraih gelar Doktor bidang patologi dan mikrobiologi di IPB.

Melihat pentingnya masalah ini, ia pun melakukan penelitian tentang sakazakii secara serius, dan membawa sampel-sampel ke Jerman untuk diteliti.

Serangkaian percobaan pun dilakukan, dengan menggunakan mencit (tikus) sebagai hewan percobaan.

"Saya melakukan penelitian dengan penuh tanggung jawab, bukan sembunyi-sembunyi. Dananya pun dana resmi. Hasil-hasil penelitannnya pun saya publikasikan melalui jurnal ilmiah," kata wanita kelahiran Bandung 29 Juni 1960 ini.

Mengenai merek-merek susu yang menjadi sampel memang tidak disebutkan dalam jurnal ilmiah, karena hal tersebut terkait etika penelitian yang harus dipegang, katanya.

Estuningsih mengharapkan masyarakat tidak perlu merasa khawatir yang berlebihan terhadap kemungkinan adanya bakteri sakazakii dalam susu formula.

"Bakteri sakazaki pada susu formula betul ada, sakazakii bisa menginfeksi mencit memang benar, tapi kita tidak bisa menarik garis lurus langsung sekarang juga mengenai bahayanya bagi manusia, karena hal tersebut memerlukan penelitian lainnya," katanya.

"Sejauh kita sejak awal tahu pencegahannya kita tidak perlu khawatir," kata ibu dua anak tersebut.

Sesuai dengan karakter bakteri E. sakazakii yang rentan terhadap panas dan tereliminasi pada suhu 72 derajat Celsius selama 15 detik, maka masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keberadaan bakteri tersebut, selama proses penyiapan dan penyajian susu formula dilakukan dengan baik.

Pemberian ASI jelas lebih sehat dan lebih baik. Namun, bila harus memberikan susu formula kepada bayi maka susu tersebut harus diberikan dengan cara yang benar yaitu menggunakan air dengan suhu lebih dari 70 derajat C atau 10 menit setelah air mendidih.

"Apalagi sekarang sudah ada aturan-aturannya, dan BPOM tentunya akan terus menerus mengawasi produk makanan yang beredar. Saya berharap segala sesuatu dijalankan dengan kearifan sehingga semua pihak puas dan tidak ada yang dikorbankan atau dirugikan," tambahnya.


Kredibilitas

Sementara itu Wakil Rektor IPB bidang riset dan kerjasama, Dr.Ir. Anas Miftah Fauzi M Sc mengatakan, kredibilitas Dr Estuningsih sebagai peneliti tidak perlu diragukan lagi.

"Beliau fokus pada kompetensinya. Ia juga sudah sering diundang pada forum-forum penting tingkat internasional," kata Anas Miftah.

Di antara forum yang diikutinya adalah di tahun 2006 ketika Estuningsih sebagia satu-satunya peneliti dari Asia yang menjadi pembicara dalam pertemua FAO di Italia.

"Saya juga melihat Dr Estuningsih sangat serius dalam risetnya perihal bakteri sakazakii ini. Ia memilih laboratorium yang canggih (di Jerman) utnuk mengisolaikan dan mengidentifkasi bakteri itu," katanya.

Selain itu sebagai pertanggungjawaban ilmiah, ia telah melaporkan hasil penelitianya melalui jurnal-jurnal ilmiah dan menyampaikannya ke pihak-pihak yang berkepentingan langsung.

Di tahun 2006 Dr Estuningsih, kata Anas Miftah, sudah mengkomunikasikan penelitianya ke pihak manufaktur yang produknya positif, dan juga menyampaikan hasil penelitiannya ke BPOM.(*)

(T.T004/E001)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011