Jakarta (ANTARA News) - Seorang hakim wanita di Mahkamah Konstitusi, Maria Farida Indrati Soeprapto, 61 tahun, meraih SK Trimurti Award 2010 karena memilih jalan yang bersih dan teguh menegakan hukum dengan integritas yang tinggi.

Ketua AJI Jakarta Wahyu Dhyatmika menyerahkan penghargaan SK Trimurti Award 2010 kepada Maria Farida, salah seorang anak mantan wartawan LKBN ANTARA, di Galeri Foto Jurnalistik ANTARA, Jakarta, Kamis malam.

Anggota dewan juri Hermien Kleden (pemimpin redaksi U-Magazine dan Executive Editor Tempo English Edition), mengatakan sangat sulit menentukan salah satu dari wanita yang paling pantas menerima penghargaan tersebut karena calon-calonnya bagus semua.

"Akhirnya kami memilih Maria Farida satu-satunya hakim wanita di mahkamah konstitusi yang the best of the best dan berhak menerima SK Trimurti Award ini," kata Hermien yang langsung disambut tepukan gemuruh dari puluhan undangan yang hadir.

"Maria telah memilih untuk hidup sederhana, tetap teguh dan konsisten menjunjung nilai dan integeritas adalah sesuatu yang layak dihormati. Perjuangan Maria Farida membela demokrasi dan nilai-nilai hukum yang benar dan adil mengingatkan kita pada prinsip SK Trimurti semasa hidupnya sebagai wartawan, politisi, dan pembela demokrasi," ujar Hermien.

Maria adalah salah satunya hakim konstitusi yang memberikan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam perkara uji materi UU tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama, April 2010.

Doktor ilmu hukum UI ini juga menyampaikan pendapat berbeda pada perkara uji materi UU Pornografi, Maret 2010.

Ketika berbicara, Maria mengatakan bahwa gedung dimana ia menerima penghargaan adalah tidak asing. "Bapak saya dulu adalah wartawan Antara. Ia bekerja sebagai wartawan kantor berita ini mulai tahun 1968 hingga 2000. Saya sering diajak ke kantor Antara di Pasar Baru ini," kata Maria.

Keberanian untuk menyatakan beda pendapat merupakan salah satu nilai yang diwariskan bapaknya sebagai seorang wartawan kantor berita.

SK Trimurti Award merupakan penghargaan kepada perempuan jurnalis atau aktivis yang berjuang untuk kebebasan berekspresi, kebebasan pers dan arus informasi yang setiap tahun selalu diselenggarakan oleh AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia).(*)
(ANT/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010