Washington (ANTARA News) - Obat asma yang umum digunakan manusia, Albuterol, dapat membantu pasien yang mempunyai keluhan sklerosa kompleks (MS), karena memampatkan sistem kekebalan yang terlalu aktif, lapor para peneliti di AS seperti dikutip Reuters.

Pil murah generik ini dapat meningkatkan efek pengobatan MS standar yang disebut "glatiramer", demikian laporan para peneliti dalam Archives of Neurology.

Asosiasi Sklerosa Kompleks Amerika memperkirakan, 350 ribu sampai 400 ribu orang Amerika menderita MS, yang sebelum tidak bisa disembuhkan.

Pengobatan terlalu mahal sehingga perusahaan asuransi dan pasien menyambut obat generik murah itu yang dapat mengobati penyakit yang paling banyak menyerang remaja tersebut.

Dr. Samia Khoury dari Brigham and Women's Hospital serta Fakultas Kedokteran Universitas Harvard, Boston, beserta mitra kerjanya menguji 39 pasien pengidap penyakit MS yang sering tiba-tiba kumat ini. Penyakit ini tidak tentu perkembangannya.

Pasien mendapatkan suntikan glatiramer yang adalah obat MS yang dijual dengan merek Copaxone dan diproduksi Teva Pharmaceutical Industries Ltd.

Setengah dari obat ini berupa pil plasebo, sedangkan setengah lainnya mengandung albuterol. Obat ini dijual di Eropa dengan nama Salbutamol.

Pasien dicermati dan diperiksa selama setahun, dengan menjalani tes darah, dan pemidaian otak mereka.

Beberapa pasien kambuh. Tetapi mereka yang mendapatkan kedua obat itu kambuh penyakitnya 0,09 per tahun, sementara mereka yang mendapat plasebo memiliki tingkat kekambuhan 0,37 per tahun.

Mereka yang mengonsumsi Albuterol sembuh sebelum kambuh pertama mereka.

"Kami menyimpulkan pengobatan dengan asetat glatiramer ditambah albuterol sangat ditoleransi dan meningkatkan hasil klinis pada pasien penderita sklerosa kompleks," tulis tim Khoury's.

Sklerosa kompleks dicirikan oleh hilangnya selubung lemak yang melindungi sel saraf yang disebut mielin. Hal itu disebabkan oleh perdagangan dan pasien kerap mengalami peningkatan kadar interleukin-12.

Albuterol membantu pengobatan terhadap penyempitan saluran udara bronkospasme yang disebut salah satu gejala berbahaya asma, dan menurunkan interleukin-12.

Obat ini dipasarkan oleh GlaxoSmithKline, Teva dan pembuat lainnya, baik dalam bentuk pil maupun dihirup.

Teva saat ini sedang berjuang di pengadilan untuk paten obat Copaxone.(*)

Reuters/Adam/Jafar

Pewarta: Adam Rizallulhaq
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010