Surabaya (ANTARA News) - Puluhan pemuda Surabaya dari kalangan aktivis mahasiswa, aktivis LSM, dan mahasiswa, Kamis, mendiskusikan komunisme dalam bedah buku "Kemunculan Komunisme Indonesia" karya Dr Ruth T McVey (peneliti Inggris).

Bedah buku yang berjudul asli "The Rise of Indonesian Communism" itu menampilkan dua pembicara yakni Prof Bennedict Anderson (Indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat) dan dosen Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi.

Dalam bedah buku terbitan Komunitas Bambu, Jakarta (Desember 2009) yang diprakarsai Komite Tionghoa Indonesia Peduli Pemilu (KTIPP) Surabaya itu, peserta sempat mencurigai pemunculan buku terbitan tahun 1965 itu akan mendorong kebangkitan komunisme di Indonesia.

Sebagian peserta menduga komunisme yang di masa lalu memanfaatkan isu kemiskinan itu sekarang mendompleng isu HAM dan demokrasi, namun sebagian peserta lain menilai komunisme itu tak lebih sama dengan kapitalisme yang selalu muncul dalam pertarungan wacana globalisasi dengan wacana lokal.

Menurut dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi, komunisme tak perlu dicurigai akan muncul lagi, meski isu komunisme akhir-akhir banyak dibicarakan.

"Komunisme secara ideologi tak mungkin muncul lagi, karena itu untuk menepis kecurigaan sebaiknya munculkan saja wacana tentang komunisme dari dua kubu yakni kubu yang aspiratif terhadap komunisme dan kubu yang kritis," katanya.

Namun, katanya, wacana komunisme yang muncul di Indonesia saat ini masih wacana yang aspiratif terhadap komunisme, termasuk buku komunisme juga masih banyak yang bersifat "tidak kritis" terhadap komunisme.

"Saya kira penerbit buku sudah saatnya menerbitkan buku-buku yang kritis terhadap komunisme, seperti buku karya penulis-penulis Eropa, sehingga masyarakat akan menilai dalam dua wacana yang objektif," katanya.

Dalam bedah buku itu, Airlangga Pribadi menyatakan komunisme sempat "berhasil" di Indonesia dengan memasuki segala lini dari masyarakat Indonesia, termasuk pengaruh komunisme terhadap kaum religius seperti Tjokroaminoto.

"Tapi, pengaruh komunisme itu hanya `nyambung` dengan gerakan antikolonialisme, kemudian komunisme harus berbenturan dengan budaya lokal di Indonesia," katanya.

Senada dengan itu, Indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat, Prof Bennedict Anderson, berpendapat Ruth T. McVey sangat bagus dalam menelusuri perkembangan PKI dari kelahiran pada tahun 1914 hingga upaya "kudeta" gagal pada 1926-1927.

"Ruth T. McVey sendiri sangat menguasai komunisme di kawasan Asia Tenggara, sehingga bukunya sangat menarik, karena dia menggabungkan komunisme di Indonesia dengan negara lain," kata Indonesianis kelahiran Tiongkok itu.

Namun, Profesor Ben yang berseberangan dengan Pak Harto itu sempat meragukan kemungkinan komunisme akan berkembang di Indonesia, sebab masyarakat Indonesia itu belum berpendidikan, tradisional, dan bahkan cenderung "kejawen."

(T.E011/R009)

Oleh
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010