New York (ANTARA News/AFP) - Harga minyak naik Jumat waktu setempat (Sabtu pagi WIB)), dengan pasar khawatir setelah berita bahwa pasukan Iran telah merebut sumur minyak Irak dalam sengketa perbatasan.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk Januari, naik 71 sen menjadi ditutup pada 73,36 dolar per barel, mengupas keuntungan sebelumnya.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Februari 38 sen lebih tinggi pada 73,75 dolar per barel.

Pasukan Iran mengambil kendali dari sumur minyak Irak selatan pada sengketa bagian perbatasan pada Jumat, pejabat kata Amerika Serikat dan Irak.

"Pasar menguat sejak awal (setelah laporan)," kata analis VTB Capital Andrey Kryuchenkov, menambahkan bahwa berita akan "membatasi sisi penurunan."

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates mengatakan pasar gelisah atas ketegangan baru perbatasan.

Di pasar minyak berjangka sangat sensitif terhadap ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, produsen minyak terbesar kedua dalam kartel OPEC, setelah Arab Saudi.

Menurut intelijen AS, Pengawal Revolusi Iran, sebuah pasukan elit, kekuatan ideologis Republik Islam, mengontrol operasi laut di Teluk kaya minyak dan Selat Hormuz, daerah di mana sebagian besar minyak transit.

Perampasan sumur minyak terjadi setelah pemerintah Iran Rabu melakukan uji coba penembakkan sebuah rudal jarak menengah yang katanya bisa menyerang Israel.

Harga juga naik pada Jumat di tengah tanda-tanda meningkatnya permintaan energi di Amerika Serikat, konsumen terbesar dunia, kata para dealer.

Analis mengatakan permintaan energi Amerika yang lebih kuat, didorong oleh kebutuhan untuk bahan bakar pemanas selama musim dingin di belahan bumi utara, kemungkinan akan berlanjut mendukung harga minyak.

Sementara itu, kepala OPEC (Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak) mengatakan kartel kemungkinan besar akan mempertahankan kuota produksi tidak berubah ketika bertemu Selasa di ibukota Angola, Luanda.

Jose Botelho de Vasconcelos, menteri minyak Angola, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Radio Ecclesia pada Jumat bahwa sangat mungkin produksi akan dipertahankan karena harga stabilkan dalam kisaran antara 75 dan 80 dolar.

Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya juga telah menyatakan dukungan untuk mempertahankan produksi saat ini.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009