Jakarta (ANTARA) - Cap Go Meh punya arti hari kelima belas dari bulan pertama, Cap artinya sepuluh, Go artinya lima dan Meh artinya malam. Cap Go Meh merupakan hari terakhir perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15.

Perayaan Cap Go Meh berlangsung di beberapa tempat di Indonesia, juga negara-negara lain seperti Malaysia dan Taiwan.

Ada yang menyebutnya sebagai Festival Lampion, ada juga yang menyebut Cap Go Meh sebagai Hari Valentine China, atau menganggapnya sebagai hari ke-15 dari tahun baru China.

Cap Go Meh, seperti perayaan lain, merupakan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarga dan makan bersama.

Di kota Singkawang, Kalimantan Barat, Cap Go Meh dimeriahkan dengan atraksi tatung alias orang yang kerasukan arwah leluhur. Tatung dalam bahasa Hakka adalah sebutan untuk orang yang dirasuki roh dewa, mereka mampu melakukan atraksi menantang maut yang melibatkan benda-benda tajam.

Ada juga ritual naga buka mata, di mana dukun yang kemasukan roh kera sakti "membuka mata naga" dengan menconteng mata replika naga dengan cat merah yang sudah diberi mantra. Tujuannya adalah agar naga itu punya kekuatan untuk membersihkan roh-roh jahat. Replika naga tersebut diarak berkeliling kota Pontianak, Kalimantan Barat, hari ini.

Setelah itu, mata replika naga yang diconteng dengan cat merah akan diconteng menggunakan cat hitam oleh dukun, kemudian dibakar untuk mengantar roh ke kayangan.

Sementara itu, kota Palembang menghiasi suasana dengan 10.000 lampion aneka warna untuk menyambut Cap Go Meh, juga aktivitas seperti wushu hingga barongsai.

Di Malaysia, Cap Go Meh dirayakan sebagai momen mencari pasangan untuk para lajang.

Zaman dulu, para perempuan yang sudah cukup umur untuk menikah tak boleh keluar rumah kecuali pada hari di mana kaisar mengizinkan orang-orang untuk membawa lampion dan keluar rumah untuk mengelabui Dewa Api.

Beberapa waktu berlalu, banyak gadis muda memanfaatkan momen ini untuk pergi ke kuil, berdandan semenarik mungkin dengna harapan bertemu dengan pria yang bakal merebut hati mereka. Para pria muda juga berkumpul dengan harapan bisa melihat sekilas para gadis-gadis menarik ini. Saat ada yang membuat jantung berdegup kencang, pria akan meminta mak comblang untuk melamar sang gadis.

Menurut cerita rakyat China, ada dewa perjodohan Yue Xia Lao Ren yang mengikat tali merah di pergelangan kaki dua sejoli yang ditakdirkan bersama.

Sekarang, perempuan tak lagi dilarang untuk keluar rumah sehingga muncul tradisi baru yang muncul dari pulau Penang pada abad ke-19. Saat Cap Go Meh, para perempuan lajang akan melemparkan buah jeruk ke laut karena percaya hal itu akan membuat mereka menemukan suami yang baik. Ritual itu juga menyiratkan bahwa perempuan-perempuan ini sudah siap menikah.

Ada yang bilang saat jeruk yang mengambang di air ini diambil seseorang, artinya si pelempar akan menemukan pasangan yang baik.

Tapi ada alternatif lain yang lebih sesuai dengan era digital saat ini, seperti dituturkan master feng shui Jessie Lee dari Malaysia.

Dikutip dari Yahoo, orang-orang yang tak ingin mengotori danau dengan buah jeruk bisa memilih untuk berfoto dengan buah dan mengunggahnya di media sosial untuk mencari jodoh. Tapi sah-sah saja untuk tetap melakukannya. Tren yang sedang berlangsung saat ini adalah menulis permohonan di kulit jeruk sebelum melemparnya ke laut. Ritual ini kini tak hanya berlaku untuk gadis lajang, tapi dari berbagai kalangan.


Baca juga: Ratusan Tatung di Singkawang gelar ritual cuci jalan

Baca juga: Ruas Utara Jalan Pancoran Glodok ditutup dua hari untuk festival Cap Go Meh

Baca juga: Ritual Bakar Naga akhiri perayaan Cap Go Meh di Pontianak

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2020