Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) Tumiyana mengatakan bahwa besarnya utang bagi badan usaha milik negara (BUMN) karya tidak serta-merta menunjukkan kinerja negatif.

"Perusahaan konstruksi itu banyak utang. Saya luruskan, utang tersebut diperlukan agar perusahaan bisa tumbuh dan berkembang. Rasio keuangan juga terjaga," ujar Tumiyana di Jakarta, Rabu.

Ia mengemukakan, gearing rasio perseroan perseroan berada pada posisi aman. Pada 2018, gearing rasio perseroan sebesar 0,79 persen, dan pada 2019 ditargetkan sebesar 0,49 persen.

Secara sederhana, "gearing ratio" merupakan jumlah pinjaman dibandingkan modal sendiri perusahaan.

Selain itu, lanjut dia, rasio laba terhadap ekuitas perusahaan (debt to equity ratio/DER) perseroan relatif terjaga di bawah tiga persen. Tercatat, pada 2018, DER WIKA sebesar 2,44 persen pada 2019 diperkirakan sebesar 1,73 persen.

"Artinya, ruang bagi WIKA masih lebar untuk melakukan konsesi pekerjaan. Rasio keuangan akan terus dijaga," katanya.

Baca juga: WIKA bidik proyek di Afrika dengan potensi nilai kontrak Rp2 triliun

Pada 2023 mendatang, ia memaparkan, gearing rasio perseroan akan dijaga di bawah level satu persen atau 0,76 persen, dan DER perusahaan di bawah dua persen atau 1,77 persen.

Sementara itu untuk kinerja laba, Tumiyana optimistis WIKA akan mencatatkan pertumbuhan menjadi Rp3,01 triliun, dibandingkan tahun 2018 lalu sebesar Rp2,07 triliun. Dan akan terus tumbuh menjadi Rp10,35 triliun pada 2023.

Dalam kesempatan itu, Tumiyana juga mengatakan, perseroan fokus mengejar target kontrak baru tahun ini senilai Rp61 triliun. Hingga akhir semester I 2019, WIKA telah mencatatkan kontrak baru Rp15,2 triliun, didominasi kontrak antar-BUMN.

Berdasarkan catatan, segmen infrastruktur dan gedung berkontribusi sebesar 39,27 persen, segmen energi dan industrial plant 39 persen, segmen industri 17,60 persen, dan segmen properti sebesar 4,12 persen pada semester pertama tahun ini.

Tumiyana meyakini target kontrak baru akan diraih pada semester kedua seiring berjalanannya belanja pemerintah dan selesainya proses pemilu yang sempat membuat pelaku usaha wait-and-see.

"Saya tak akan 'revise down' kontrak. Kontrak baru perseroan sampai dengan kuartal ketiga itu akan bergerak ke angka Rp37 triliun. Boleh revise, tapi naik," ucapnya.
Baca juga: WIKA bukukan laba bersih Rp1,01 triliun pada semester I 2019