Manado (ANTARA) - Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Johan Jaconias Haurissa mengatakan, pemahaman agroklimat ikut meningkatkan produksi padi 10-20 persen per hektarenya.

"Pemahaman petani serta penyuluh lapangan tentang agroklimat bisa didapat melalui Sekolah Lapang Iklim atau SLI, ini adalah SLI tahap tiga," ujar Haurissa di Manado, Jumat.

Sebelum dilakukan intervensi melalui SLI, kata dia, produksi pertanian tanaman padi masih di bawah lima ton per hektare, dan salah satu penyebabnya adalah setelah ditanam hanya dibiarkan.

"Melalui program ini (SLI) baik petani maupun penyuluh didampingi, dan ini berlangsung selama lima bulan, hasilnya memang bisa meningkat," ujarnya.

Dia berharap, pengetahuan ataupun wawasan yang diperoleh dapat ditularkan kepada petani lainnya sehingga memiliki pemahaman dan bisa dipraktekkan meningkatkan sektor pertanian.

"SLI ini tidak saja dapat meningkatkan pemahaman tentang iklim, namun lebih jauh lagi adalah dapat meningkatkan produktivitas pertanian menuju swasembada pangan nasional," katanya.

Widyaiswara Utama BMKG Nurhayati menambahkan, yang paling penting ketika petani atau penyuluh mengikuti program SLI ini bukan terletak peningkatan produksi pertanian semata.

Namun, dari program ini peserta mendapatkan pembelajaran tentang kegagalan atau mengapa terjadi kecenderungan kenaikan hasil produksi.

Target jangka pendek SLI, lanjutnya adalah membantu petani memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang informasi iklim dan memanfaatkan informasi iklim dalam praktek pertanian.

Sementara, untuk jangka pan jangnya yaitu merangsang agro-bisnis berkelanjutan kelompok tani dimana informasi iklim adalah jantung dari strategi dan proses pengambilan keputusan.


Baca juga: Sekolah lapang iklim BMKG jadi contoh literasi iklim Asia-Pasifik
Baca juga: BMKG: Banyak negara mengadopsi program sekolah lapang iklim
Baca juga: Sekolah Lapang Iklim peran BMKG dukung ketahanan pangan