Jakarta (ANTARA) - Petugas pelayanan kesehatan Jakarta Barat menyampaikan pengungsi suaka di penampungan sementara Kalideres, Jakarta Barat banyak mengeluhkan sakit kepala.

"Mungkin karena kondisi mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu ke depan mau bagaimana," ujar petugas suku dinas pelayanan kesehatan administrasi Jakarta Barat, Sumirat di Jakarta, Rabu.

Ia menambahkan pihaknya melayani sekitar 80 orang pengungsi suaka setiap harinya di penampungan sementara gedung bekas Komando Militer (Kodim) Kalideres, Jakarta Barat.

"Untuk hari ini, ada 75 pengungsi suaka yang mengeluh sakit dan berobat ke kami, namun kalau di rata-rata sekitar 80 orang yang berobat, kadang lebih dari itu," paparnya.

Ia mengatakan pelayanan kesehatan di lokasi pengungsi suaka mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Jika ada keluhan kesehatan di luar jam operasional itu, pengungsi suaka dapat datang ke Puskesmas Kalideres.

"Keluhan kesehatan di luar jam operasional bisa ke Puskesmas Kalideres, diantar petugas Satpol PP. Sejauh ini tidak ada keluhan penyakit serius," ucapnya.

Salah seorang pengungsi suaka asal Afganistan, Muhammad Syah mengatakan ketidakpastian terhadap masa depan di pengungsian membuatnya cepat jatuh sakit, terutama bagian kepala.

"Saya tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu kepastian dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) agar tak lagi terlunta-lunta di Jakarta," katanya.

Indonesia, lanjut dia, menjadi tempat singgah sebelum mendapatkan suaka negara tujuan seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru.

Kendati demikian, ia masih merasa bersyukur di tempat pengungsian sementara ini, setidaknya ada tenda-tenda bantuan dari Kementerian Sosial dan Dinas Sosial DKI Jakarta, bantuan kesehatan dari Pemda Jakarta Barat, hingga bantuan air dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

Ia mengaku terpaksa melarikan diri dari negaranya karena perang. Dia datang bersama keluarga pamannya ke Indonesia.

"Orang tua saya sudah tidak ada sejak saya ukur dua tahun, menghilang, entah dimana sekarang," ujar Muhammad Syah yang mengaku sudah tinggal di Jakarta selama tiga tahun.l

Terdapat 1.271 pencari suaka yang menempati gedung bekas milik Kodim itu. Mereka, termasuk perempuan dan anak-anak, menempati fasilitas seadanya di gedung dua lantai tersebut sambil menanti kejelasan nasib.