Magelang (ANTARA) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat beragama bersatu padu dan bahu-membahu untuk membina lingkungan masing-masing agar tidak menjadi penyalahgunaan agama untuk tindakan kekerasan dan agar tidak terjadi pemboncengan kegiatan keagamaan untuk tindak kekerasan.

"Marilah kita jaga anak cucu kita dan masyarakat kita agar tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang salah yang menggunakan kekerasan atas nama agama," katanya di Magelang, Jateng, Minggu.

Ia menyampaikan hal tersebut dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dirjen Bimas Buddha Kemenag Caliadi pada perayaan Asalha Puja di pelataran Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

"Marilah kita jaga rumah ibadah kita dan tempat-tempat pendidikan anak-anak kita agar tidak menjadi tempat yang rawan akan pengaruh paham yang salah," katanya.


Baca juga: Menag apresiasi kerukunan beragama Sumsel cukup harmonis

Baca juga: Warga Keerom dimbau jaga kerukunan umat beragama

Baca juga: Litbang Kemenag: indeks kerukunan umat beragama 2018 turun

Ia mengatakan memaknai hari Asalha yang didahului pembacaan Kitab Suci Tripitaka pihaknya mengimbau kepada seluruh umat beragama untuk tidak pernah berhenti mengkaji mempelajari manuskrip nusantara sebagai kekayaan budaya Indonesia.

Ia menuturkan dari manuskrip budaya nusantara itu selain memperkaya pengetahuan tentang masa lalu juga mempelajari bagaimana para pendahulu membumikan ajaran agama dengan perekat budaya.

"Dari situ kita bisa belajar untuk beragama dengan baik, rendah hati, belajar agama secara moderat, dapat menghargai perbedaan dan tidak memaksa kehendak," katanya.

Ia menyampaikan dalam kehidupan sehari-hari masih dikejutkan dengan adanya tindak kekerasan yang seolah-olah memberi kesan bahwa tindakan itu ditunjukkan untuk membela agama.

Ia mengatakan dalam setiap tindakan kekerasan bertentangan dengan ajaran agama karena agama sesungguhnya mengajarkan sebuah kedamaian dan bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia.

Di dalam ajaran Buddha, katanya dikenal dengan empat ajaran dan jalan tengah beruas delapan sebagai pedoman dalam meyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari.

"Dengan penerapan itu maka tercipta harmoni dalam kehidupan, menambah pengalaman spiritual dan menambah keyakinan terhadap kebenaran ajaran Buddha Darma," katanya.