Jakarta (ANTARA) - Ekonom Institute for Development of Economis and Finance (IDEF) Enny Sri Hartati menilai tepung mocaf atau modified cassava flour, yang kini tengah dikembangan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dapat mendorong daya saing industri makanan di dalam negeri.

"Jika di banyak kawasan dibina betul, maka akan cukup besar potensinya. Asumsinya, satu kawasan sekian ton tinggal dikalikan saja berapa kawasan bisa dikloning menjadi bisnis model," ujar Enny saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Enny mengatakan tepung mocaf dapat menjadi tepung substitusi tepung terigu, sekaligus mengurangi impor terigu.

Sebab, menurut Enny, salah satu persoalan di industri makanan, terutama makanan berbasis tepung selama ini adalah terigu. Sementara, selain terigu, banyak variasi yang dapat dijadikan alternatif.

Pengembangan tepung alternatif, misalnya mocaf dari ubi kayu, menurut Enny, dapat dilakukan lewat Dana Desa.

"Dana Desa dapat dimanfaatkan unutk mengembangkan produk pasca panen. Di desa yang berpotensi menghasilkan singkong atau ubi bisa dikembangkan menjadi tepung untuk memenuhi skala industri," kata Enny.

Tantangannya saat ini, lanjut Enny, banyak petani di Indonesia adalah petani gurem yang memiliki lahan yang tidak luas.

Lebih dari itu, menurut Enny, tidak ada yang membantu mendampingi para petani tersebut untuk mengarahkan pengelolaan lahan dan pengolahan pasca panen.

"Harus ada sinergi, tidak parsial. Kalau tidak dikasih pembinaan, pendampingan, mengusahakan peningkatan value di sisi hulunya, tidak akan efektif. Harus bak gayung bersambut, harus kompak," ujar dia.

Dalam upaya mendongkrak daya saing industri makanan dalam negeri, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin saat ini sedang merancang showcase dalam bentuk suatu lini percontohan dalam penerapan industri 4.0 untuk pembuatan tepung mocaf.

Balai Besar Industri Agro (BBIA), sebagai salah satu unit litbang di bawah BPPI Kemenperin, telah menjadikan mocaf sebagai salah satu topik dalam kegiatan litbang. Hasil litbang yang dihasilkan BBIA terkait dengan mocaf, antara lain pembuatan starter mokaf, tepung mokaf, dan aplikasinya untuk pangan.

Kemenperin mencatat industri makanan dan minuman merupakan salah satu andalan dalam kelompok sektor manufaktur nasional. Pada triwulan I tahun 2019, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 6,77 persen atau mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,07 persen.

Industri makanan dan minuman juga disebut berperan penting sebagai penyumbang devisa yang cukup signfikan, dengan kontribusi dari investasi industri makanan dan minuman sebesar Rp12,77 triliun di triwulan I-2019.

Baca juga: Ahli IPB: Penderita diabetes-obesitas bisa konsumsi tepung ubi kayu
Baca juga: Ini saran Indef saat hadapi kemarau soal pangan