Jakarta (ANTARA News) - Terus bertambahnya jumlah kematian akibat flu burung (avian influenza/H5N1) mendorong pemerintah mengambil berbagai langkah untuk mengatasinya, salah satunya dengan memperketat pengawasan tata laksana pasar-pasar unggas. Dalam jumpa pers usai rapat koordinasi (Rakor) penanganan flu burung di Jakarta, Kamis, Menko Kesra Aburizal Bakrie mengatakan bahwa langkah itu juga sudah disepakati bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto serta para gubernur serta bupati di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Seperti diketahui, sejak tahun 2005 hingga awal 2008 telah terjadi 101 kematian akibat flu burung. "70 persen di antaranya terjadi di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten," ujar Menko Kesra. "Dari total kasus penularan flu burung yang terjadi di Indonesia, sekitar 54 persen terjadi di kawasan Jabodetabek," tambahnya. Keputusan yang diambil dalam rapat koordinasi itu adalah; membersihkan semua pasar unggas. Sehingga untuk bagian pasar yang menjual unggas hidup ditutup satu hari tiap 10 hari. "Jadi satu hari dalam 10 hari bagian unggas hidup itu tidak jualan karena sedang dibersihkan," kata Aburizal menjelaskan. Menurut dia, dalam jangka panjang akan ada peraturan nasional yang melarang penduduk memelihara unggas di kawasan permukiman. Keputusan kedua yang dihasilkan rakor itu adalah menutup tempat-tempat penampungan dan pemotongan unggas yang masih berada terlalu dekat dengan kawasan permukiman. Masalah pokok penularan flu burung, masih kata Aburizal, adalah akibat lokasi penampungan dan pemotongan unggas yang terlalu dekat dengan rumah-rumah penduduk. Selain itu diputuskan pula bahwa pemerintah akan mengupayakan pola perdagangan unggas yang berupa daging saja, sehingga perdagangan unggas hidup seperti ayam akan diperketat. "Akan dibahas kemungkinan perdagangan unggas hidup, bagaimana transportasi dan distribusinya," kata menteri yang akrab disapa dengan nama Ical itu. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pada masa mendatang pemerintah akan mengatur agar tidak ada ayam-ayam yang berkeliaran bebas di permukiman, "Semua ayam harus dimasukkan ke kandang." Dalam waktu dekat pemerintah juga akan segera melakukan pelatihan buat tenaga medis seperti dokter dan perawat yang bekerja di klinik-klinik 24 jam dan rumah sakit swasta, agar mereka punya kemampuan yang memadai untuk menangani gejala-gejala awal pasien flu burung. Ical menegaskan pelatihan ini segera akan mulai dilaksanakan di kawasan Jabodetabek. Langkah lain yang akan diperkuat oleh pemerintah adalah sosialisasi flu burung ke sekolah-sekolah dan kawasan permukiman, agar anak-anak dan penduduk mendapat informasi yang lebih baik soal flu burung. Sementara itu Mendagri Mardiyanto menjelaskan bahwa pihaknya ingin menekankan kembali bahwa komunikasi tetap harus digencarkan, lewat penyebaran buku dan poster pengendalian flu burung. Mardiyanto memaparkan dalam tempo satu pekan ke depan akan dibahas soal pembuatan peraturan daerah yang khusus mengatur ikhwal penanganan flu burung di semua daerah di Indonesia.(*)