Badung (ANTARA) - Sebanyak 100 orang perajin kriya kayu ukir di Bali, mengikuti kegiatan Sertifikasi Profesi Perajin Kriya Kayu Ukir di Sanur, Denpasar, Bali.

"Kegiatan ini sudah dua kali digelar di Bali karena Bali merupakan pusatnya seni nasional, seni apapun itu termasuk seni ukir kayu," ujar Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Furniture dan Kayu Olahan, Bernadus Arwin, Jumat.

Kegiatan yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Kriya Kayu Ukir itu diharapkan dapat menumbuhkan semangat seniman, khususnya seniman ukir untuk tetap berkarya dan berkesenian.

Dalam rangkaian kegiatan sertifikasi itu, saat uji kompetensi, perajin diharuskan mengukir pola ukiran di balok kayu yang telah disiapkan panitia.

"Kami menilai hasil uji ini, portofolio dan attitude para peserta. Nantinya itu akan menghasilkan peserta yang berkompeten atau belum berkompeten," kata Arwin.

Sementara itu, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf, Ari Juliano Gema mengatakan, uji kompetensi itu menguji kemampuan dasar, kemampuan teknis dan perilaku perajin.

Menurutnya, apabila perajin telah memiliki sertifikasi profesi yang diakui akan lebih memiliki nilai tambah untuk para perajin kayu ukir.

"Sertifikasi ini sifatnya tidak wajib. Namun sertifikasi dapat memberikan nilai tambah bagi mereka khususnya terkait ekspor produk. Di negara maju sertifikasi sangat dinilai dan dihargai, itulah yang ingin kami capai," katanya.

Ia menjelaskan, setiap kegiatan sertifikasi digelar, para perajin sangat antusias dalam mengikuti kegiatan. Bahkan jumlah peserta sangat membludak.

"Kali ini karena keterbatasan waktu, dana dan assesor, kami hanya bisa memfasilitasi 100 peserta. Namun ke depannya, apabila masih ada permintaan dari perajin, kami bisa menyelenggarakan kembali atau nanti pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan kami untuk mengadakan kegiatan serupa," kata Ari Juliano.