Pangkalpinang (ANTARA) - PT Timah Tbk mengerahkan tim medis dan tanggap bencana emergency response group (ERG) untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Bengkulu, sebagai bentuk komitmen dan empati perusahaan membantu masyarakat korban bencana alam di daerah itu.

"Kita ingin agar beban masyarakat korban banjir dan tanah longsor di Bengkulu dapat terkurangi, terlebih lagi saat ini korban sedang menunaikan ibadah puasa," kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Amin Haris di Pangkalpinang, Jumat.

Ia mengatakan tim PT Timah yang terdiri dari tenaga medis, paramedis, penyelamat (rescue) dan logistik diberangkatkan dari Jakarta menuju Bengkulu pada Rabu (8/5). Pada musibah banjir disusul longsor yang terjadi pada 27 April lalu, sedikitnya 24 warga dinyatakan meninggal dunia, 4 hilang, 12 ribu warga menjadi pengungsi, 13 ribu terdampak bencana alam tersebut.

Tidak hanya itu fasilitas publik di sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu rusak parah diterjang banjir dan tanah longsor.

"Memasuki hari kedua, sejumlah upaya dilakukan tim ERG PT Timah seperti pelayanan medis berupa pemeriksaaan kesehatan dan pemberian terapi obat-obatan serta distribusi logistik," katanya.

Menurut dia, dalam melaksanakan misi kemanusiaannya, tim ERG PT Timah juga berkoordinasi dengan Posko Kementerian BUMN. Ikut bergabung pula sejumlah perusahaan pelat merah dan swasta lain yang ikut terpanggil memberikan darma baktinya membantu mereka yang tertimpa musibah.

"Prioritas bantuan yang diberikan adalah masyarakat yang wilayahnya terparah terpapar bencana. Dari tim di lapangan, wilayah yang telah mendapat sentuhan medis tim ERG dan logistik PT Timah yakni di Bengkulu Kota dan Bengkulu Utara," katanya.

Ia mengatakan dalam berbagai pengalaman penanganan bencana, tim ERG selalu mengedepankan wilayah-wilayah yang terparah terpapar bencana, serta masyarakatnya memang benar-benar membutuhkan pertolongan, baik medis maupun logistik.

Tim ERG PT Timah terbentuk sebagai puncak dari kegelisahan sejumlah karyawan yang peduli terhadap penyelamatan dan penyaluran bantuan kepada korban-korban bencana yang melanda tanah air.

Meski secara administratif dan struktural tim ini baru dibentuk pada tahun 2010, namun kiprahnya dalam penanganan bencana-bencana di tanah air sudah terbilang lama. Sejumlah wilayah bencana di tanah air telah dimasuki tim yang beranggotakan lintas satuan kerja di lingkungan PT Timah ini seperti gempa Bengkulu tahun 2000, tsunami di Aceh (2004), gempa Bantul-Yogya (2006), tsunami Pangandaran (2006), gempa Bengkulu (2007), puting beliung Pangkalpinang (2008) dan gempa Cianjur tahun 2008.

"Tim ini juga terlibat dalam membantu pencarian korban kecelakaan tambang di Belitung 2014, evakuasi dan bantuan medis logistik saat banjir besar melanda kota Pangkalpinang (2016), banjir Muntok (2017), banjir di Belitung dan Belitung Timur (2017), gempa Lombok (2018), gempa dan likuifaksi Palu (2018) serta terakhir saat tsunami Banten dan Lampung Selatan penghujung tahun lalu," katanya.*


Baca juga: Sawah terdampak banjir di Rejang Lebong Bengkulu mencapai 90 hektare

Baca juga: SAR Bengkulu hentikan pencarian empat korban longsor