Trenggalek, Jatim (ANTARA) - Sedikitnya 21 santri pondok pesantren di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang memiliki kemampuan dasar berdakwah dan mengaji mengikuti program pengabdian masyarakat dengan mengajar baca Alquran ke anak-anak desa setempat selama bukan suci Ramadhan.

"Para santri dai ini kami kirim ke 10 desa untuk mengajar tadarus dan baca Alquran di masjid-masjid ataupun mushalla desa," kata Humas Ponpes Hidayatut Thullab Riza Rijalul Mufid di Trenggalek, Senin (6/5).

Simbolis pelepasan santri mengaji itu dilakukan di pendopo Kabupaten Trenggalek.

Para santri yang menjalani masa orientasi lapangan layaknya program kuliah kerja nyata itu sebelumnya telah dibekali pengetahuan dan wawasan pengabdian desa.

Terutama tips agar bisa berbaur dan bersosialisasi dengan masyarakat tempatnya menjalankan pengabdian.

"Di lapangan, mereka nanti sasaran utamanya adalah anak-anak. Pembinaan taman pendidikan Alquran di sana," kata Humas Ponpes Hidayatut Thullab Riza Rijalul Mufid.

Ia berharap, kegiatan santri mengaji selama Ramadhan yang diinisiasi Ponpes Hidayatul Thullab itu nantinya menginspirasi ponpes lain ataupun komunitas santri di ponpes lain untuk melakukan pengabdian sejenis.

Terutama selama bulan suci Ramadhan. Selain memberi manfaat pada warga desa dalam hal pendidikan rohani, kesempatan itu juga menjadi wahana para santri untuk membangun amalan ibadah.

"Terutama melatih para santri dai ini agar mampu bersosialisasi dan mengabdikan diri atas ilmu yang dimilikinya," katanya.

Selama program pengabdian berlangsung, mereka akan dikerahkan ke masjid dan mushalla tempat mereka berdakwah di enam titik Desa Sukokidul, Kecamatan Pule.

Juga empat titik lain berada di desa Joho, Desa Kembangan, Desa Pakel, Kecamatan Pule; serta Desa Sumberejo, Kecamatan Durenan.

Dia mengatakan, para santri itu adalah siswa kelas XII Madrasah Aliyah yang akan lulus tahun ini.

Momentum pondok Ramadhan seperti saat ini dilaksanakan agar santri siap berkumpul dengan masyarakat setelah keluar pondok.

Salah satu santri peserta program pengabdian masyarakat, M Tholib mengaku telah mempersiapkan mental dan materi sejak enam bulan terakhir.

Dia juga telah berlayar melakukan simulasi mengajar tadarus, sebelum jadwal program pengabdian selama tiga pekan yang harus diikutinya menjelang kelulusan resmi dimulai awal pekan ini.

"Memang masih baru dan butuh persiapan mental, tapi ini justru membuat saya penasaran," kata Ali.

Ali mengakui, kegiatan seperti itu bakal membutuhkan persiapan mental yang kuat.

Rasa khawatir bakal kesulitan untuk dapat melebur di masyarakat pun sering muncul. Namun, Ali dan santri dai lainnya mencoba untuk lebih percaya diri.

Plt Bupati Trenggalek M Nur Arifin yang sempat melepas langsung peserta program santri mengandi ini berpesan agar menularkan ilmu yang bermanfaat bagi anak-anak di desa tempat mereka mengabdi.

"Saya minta nanti santri-santri ini dibikinkan sertifikat. Saya yang tandatangani nanti," ujar Arifin.