Jakarta (ANTARA) - Kelompok peduli kesehatan mental Komunitas Sahitya mengajak seluruh masyarakat untuk stop stigma buruk terhadap orang dengan gangguan jiwa dan meminta untuk memberikan dukungan.

“Masalah kesehatan mental masih menjadi hal tabu, sehingga banyak orang yang mengalami persoalan kesehatan jiwa menjadi ragu untuk mencari pertolongan. Di sini pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat menjadi utama untuk mencapai kesembuhan,” kata Direktur RSUD Pasar Minggu dr.Yudi Amiarno Sp.U usai meresmikan Komunitas Sahitya di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima Sabtu.

RSUD Pasar Minggu Jakarta membentuk Komunitas Sahitya dikarenakan melihat banyaknya pemahaman yang salah, hal-hal yang tabu, serta adanya pandangan buruk di masyarakat Indonesia terhadap pasien penderita gangguan kejiwaan.

Komunitas Sahitya dibentuk oleh sejumlah dokter spesialis kesehatan jiwa dengan visi membangun masyarakat yang peduli mengenai pentingnya kesehatan mental di masyarakat.

Yudi mengatakan manusia modern sekarang lebih maju dibandingkan dengan masyarakat tradisional, namun kehidupan yang ada di tengah masyarakat juga semakin kompleks dan rumit.

Beragam persoalan dan tekanan hidup telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, sehingga sebagai konsekuensinya ada sebagian masyarakat yang menjadi rentan terhadap persoalan dan tekanan hidup tersebut.

Sementara itu, dr. Yaniar Mulyantini Sp.KJ selaku pimpinan Komunitas Sahitya mengatakan manusia modern seharusnya bisa berpikir lebih bijaksana dan arif dalam mengatasi persoalan hidup yang ada.


Sayangnya dalam kenyataannya banyak manusia modern yang memiliki masalah, termasuk ketidakseimbangan diri. Mereka sangat mudah terserang gangguan-gangguan kejiwaan dan juga menunjukkan ciri-ciri depresi ringan sampai tingkat stres yang tinggi, dan jika tidak ditangani segera justru akan menjadi fatal dan membebani masyarakat itu sendiri.

“Kemajuan teknologi komunikasi, dan keberadaan media sosial telah mengubah gaya hidup dan pola tingkah laku masyarakat sekarang. Kompleksitas masalah dan adanya kenyataan yang tidak sesuai harapannya membuat masalah gangguan jiwa menjadi semakin meningkat belakangan ini. Bahkan generasi milenial tergolong paling rentan,” kata Yaniar Mulyantini yang juga pelopor terbentuknya Sahitya.

Menurut dr. Yaniar, dukungan keluarga dan masyarakat amat sangat diperlukan untuk mempercepat penanganan dan proses penyembuhannya. Kuncinya dengan membangun kebersamaan, baik di keluarga maupun komunitas yang saling peduli dengan lainnya.

“Dengan kebersamaan, para pasien maupun orang yang sedang mengalami permasalahan kesehatan jiwa, selalu mendapat dukungan sehingga tidak lagi merasa sendiri. Dengan kebersamaan dan solidaritas, semua dapat melalui fase-fase sulit dalam kehidupan, dan terbantu dengan mendengar pengalaman-pengalaman orang lain,” katanya.

Adapun penyelenggaraan kegiatan Komunitas Sahitya melibatkan beberapa komunitas kesehatan jiwa lainnya seperti Into The Light dan Arti Giving. Kegiatan Komunitas Sahitya juga didukung oleh beberapa instansi dalam penyelenggaraannya diantaranya RSUD Pasar Minggu, PT Antam Tbk, Perum Bulog dan PT Bukit Asam Tbk.

Terdapat beberapa kegiatan dan program yang dilaksanakan Komunitas Sahitya seperti Berbagi Cerita: Saling Dukung dan Peduli Kesehatan Jiwa, acara Bincang-bincang Kesehatan: Hope not Shame, dan Peer Support: Why and How.

Berbagi Cerita: Saling Dukung dan Peduli Kesehatan Jiwa bertujuan sebagai inisiasi dari serangkaian kegiatan Festival Kesehatan Jiwa. Kegiatan ini mengundang 60 peserta yang terdiri dari pasien dan keluarga, professional kesehatan jiwa, dan masyarakat awam yang peduli kesehatan jiwa.

Bincang-bincang Kesehatan: Hope not Shame, adalah acara kesehatan terbuka untuk masyarakat umum sekaligus kegiatan untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa 10 Oktober 2019. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan wawasan baru tentang kesehatan mental bagi publik.

Peer Support: Why and How, yaitu kegiatan rutin setiap tiga bulan dengan tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi anggotanya tentang pentingnya bersikap suportif terhadap sesama dan bagaimana mempraktekkannya dalam keseharian.