Tangerang Selatan (ANTARA) - Kementerian Perdagangan membidik ekspor nonmigas naik 8 persen atau sebesar 175,8 miliar dolar AS tahun ini dengan memanfaatkan cepatnya era Industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan digitalisasi infrastruktur industri dan sosial di seluruh dunia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Tangerang Selatan, Selasa, dalam acara Indonesia Industrial Summit 2019 di ICE BSD City, yang digelar Kementerian Perindustrian.

“Tahun ini, Indonesia meningkatkan target pertumbuhan ekspor nonmigas dari sebelumnya ditetapkan 7,5 persen atau sebesar 175 miliar dolar AS menjadi 8 persen atau sebesar 175,8 miliar dolar AS pada 2019. Sementara di tahun 2018, kinerja ekspor nonmigas mencapai 162,8 miliar dolar AS," kata Enggartiasto Lukita.

Baca juga: Menperin sebut industri 4.0 dongkrak PDB hingga dua persen

Mendag juga menyampaikan, target peningkatan ekspor ini akan bisa tercapai dengan sinergi bersama, khususnya dengan Kementerian Perindustrian.

"Upaya peningkatan kapasitas industri yang dijalankan Kementerian Perindustrian akan didukung dengan upaya peningkatan pembukaan pasar-pasar baru tujuan ekspor serta percepatan perjanjian yang dilakukan Kementerian Perdagangan," kata Enggartiasto.

Baca juga: 328 industri ukur kesiapan menuju industri 4.0

Untuk mencapai target ini, lanjut Mendag, ada lima sektor prioritas di era Industri 4.0 yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, dan kimia.

"Pada 2019, ekspor tekstil dan produk tekstil diproyeksikan meningkat hingga 30 persen. Ekspor produk makanan dan minuman juga diprediksi akan meningkat dan semakin kompetitif," jelas Mendag.

Baca juga: Legislator: BLK harus beradaptasi songsong Industri 4.0

Kemendag juga berkomitmen mendukung industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri dan andalan ekspor.

“Sektor tekstil memiliki harapan dan potensi yang sangat besar di masa mendatang. TPT kini merupakan salah satu produk andalan ekspor Indonesia yang terus tumbuh dan tidak bergantung pada bahan baku dan bahan penolong impor, serta memiliki pasar yang besar di dalam negeri,” terang Mendag.

Strategi lain yang dilakukan Kemendag yaitu memfokuskan kembali pada produk industri olahan yang bernilai tambah tinggi dan diversifikasi produk ekspor, membuka pasar baru, mengelola tata niaga impor dengan lebih baik, meninjau perjanjian perdagangan yang ada.

Selain itu, menjalin perdagangan dengan mitra-mitra dagang yang baru, menyelenggarakan forum bisnis dan penjajakan bisnis di negara mitra, mengembangkan ekspor jasa dan ekonomi kreatif, serta meminimalkan tindakan trade measure terhadap Indonesia.

Baca juga: Jelang era industri 4.0, Indonesia kekurangan digital talent