Padang Aro, Sumbar (ANTARA) - Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengatakan gempa yang terjadi di Kabupaten Solok Selatan pada Kamis (28/2) tidak termasuk yang diantisipasi atau diprediksi sebelumnya dan belum terdata oleh BMKG Padang Panjang.

"Gempa ini khusus terjadi di patahan suliti yang ada di Solok Selatan, sehingga sebelum BMKG datang ke lokasi dua hari lalu gempa ini tidak terdata yang artinya ini tidak termasuk yang diantisipasi atau diprediksi sebelumnya akan terjadi gempa," kata dia saat mengunjungi korban gempa di Sungai Kunyit, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Solok Selatan, Minggu.

Dia mengatakan gempa ini khas hanya terjadi di Solok Selatan dan dangkal yaitu kedalamannya kurang dari 10 kilometer dengan jarak empat kilometer dari Koto Sungai Kunyit ke episentrum ke arah bukit.

"Kekuatan gempa ini tidak besar hanya dibawah tiga SR. tetapi sering dan beberapa hari ke depan akan hilang," ujarnya.

Pada Sabtu katanya, terjadi gempa 40 kali dan Minggu tiga kali termasuk di hari sebelumnya juga cukup sering terjadi.

Gempa tersebut katanya, hanya terjadi di sekitar pusat gempa saja dan tidak ada kaitannya dengan megatrust apalagi dengan gempa yang terjadi di Mentawai.

"Mudah-mudahan seminggu ke depan akan usai karena begitu secara teorinya," kata dia.

Saat kunjungan Gubernur Sumbar didampingi Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria melihat kondisi rumah warga yang rusak serta mendatangi lokasi pengungsian.

Hingga saat ini masyarakat di Kecamatan Sangir Balai Janggo masih berada di tenda pengungsian karena takut tertimpa bangunan sebab gempa masih sering terjadi.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, memperkirakan kerugian materil akibat gempa bumi sekitar Rp25,6 miliar.

"Setelah dilakukan pendataan pasca gempa terdapat 479 unit rumah rusak beserta 15 unit fasilitas umum rusak ringan hingga berat dengan kerugian sekitar Rp25,6 miliar," kata Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria didampingi Sekretaris BPBD Sumardianto.

Kerugian terbanyak dialami oleh Nagari Sungai Kunyit dan Sungai Kunyit Barat masing-masing mencapai Rp8,4 miliar, kemudian Ranah Pantai Cermian Rp4,1 miliar.

Lalu Nagari Talunan Maju Rp2,6 miliar, Nagari Bidar Alam Rp1,1 miliar, Nagari Lubuk Malako Rp634 juta dan Nagari Talao Rp115 juta.

Hingga Jumat malam tercatat 116 unit rumah rusak berat, 152 rusak sedang dan 211 rusak ringan dan paling banyak di Kecamatan Sangir Balai Janggo.