Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Budang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi kesiapan operasional dengan fasilitas lengkap Pelabuhan Kuala Tanjung milik PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo I yang berada di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.

"Kedalaman Pelabuhan Kuala Tanjung mencapai 16-17 meter LWS (Low Water Spring) yang bisa disandari kapal-kapal besar. Dengan pengoperasian pelabuhan diharapkan mampu menekan biaya logistik sehingga terciptanya efisiensi," kata Luhut dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Menurut mantan Menko Polhukam itu, dengan penurunan biaya logistik, diharapkan nantinya bisa berdampak pada penurunan harga barang-barang sekitar 35 persen-55 persen.

"Selain itu, di pelabuhan ini juga bisa disandari cruise (kapal pesiar) yang mampu membawa 3.000-5.000 wisatawan yang bisa mendorong pariwisata Indonesia, khususnya di daerah Sumatera Utara," tambah Luhut.

Menko Luhut bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melakukan kunjungan peninjauan Pelabuhan Kuala Tanjung, Sabtu. Keduanya didampingi oleh Komisaris Utama Pelindo I Refly Harun, Direktur Operasi dan Komersial Pelindo I Syahputera Sembiring, Direktur Teknik Pelindo I Hosadi A. Putra, serta Direktur Utama PT Prima Multi Terminal Robert Sinaga.

Kunjungan itu bertujuan untuk memastikan fasilitas-fasilitas yang ada di Pelabuhan Kuala Tanjung berjalan dengan baik sehingga dengan pengoperasian pelabuhan ini sebagai hub internasional mampu melakukan percepatan kegiatan ekspor.

"Dengan pengoperasian Pelabuhan Kuala Tanjung ini diharapkan mampu mempercepat perekonomian daerah, khususnya Sumatera Utara serta menekan biaya logistik nasional," kata Direktur Operasi dan Komersial Pelindo I Syahputera Sembiring.

Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas kepelabuhanan yang lengkap dan modern dengan didukung sistem IT yang terintegrasi.

Guna meningkatkan layanan kepada pengguna jasa dan meningkatkan kecepatan proses bongkar muat, KTMT akan dilayani Container Crane bertenaga listrik dengan kapasitas 45 ton dan mampu menangani kontainer dengan kapasitas 20 kaki, 40 kaki hingga 45 kaki.

KTMT berkapasitas 600 ribu TEUs itu juga dilengkapi dengan dermaga 500x60 m, trestle sepanjang 2,8 km untuk empat jalur truk selebar 18,5 m serta dilengkapi rak pipa 4 line x 8 inch.

Selain itu, Terminal Multipurpose Kuala Tanjung juga didukung berbagai sarana dan prasarana infrastruktur bongkar muat modern dan canggih antara lain tiga unit Ship to Shore (STS) Crane, delapan unit Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG) Crane, 21 unit truck terminal, dan dua unit MHC serta Terminal Operating System (TOS) Peti Kemas maupun curah cair.

Pada tahap awal, KTMT yang dikelola oleh PT Prima Multi Terminal--perusahaan patungan antara Pelindo I, PT Pembangunan Perumahan, dan PT Waskita Karya--ini diharapkan bisa melayani ekspor hingga 600 kontainer setiap minggunya.

Sejumlah perusahaan berlokasi di KEK Sei Mangkei, diantaranya Unilever, Wilmar, PT Domas Agrointi Prima (Bakrie Group), Permata Hijau Group (PHG), dan P&G yang telah berkomitmen untuk melakukan ekspor dengan tujuan ke China, India, dan negara-negara di Asia melalui pelabuhan ini.

Pengiriman komoditas melalui Pelabuhan Kuala Tanjung menawarkan integrasi antara moda angkutan laut dan angkutan berbasis rel sehingga akan meningkatkan efisiensi serta menekan emisi karbon.

Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) sendiri telah melakukan kegiatan ekspor perdana sebanyak 205 TEUs menggunakan Kapal Wan Hai 505 pada 27 Desember 2018.