Yangon (ANTARA News) - Penyelenggara satu pertemuan di Rakhine, negara bagian di Myanmar barat yang dilanda krisis, pekan ini menawari penanam modal lahan pertanian dan perikanan, pantai-pantai yang sudah siap dikunjungi wisatawan serta kuil-kuil bersejarah.

Laman acara itu menggambarkan "tersedianya peluang-peluang yang belum tersentuh" di kawasan yang berlokasi strategis, dekat dengan pasar-pasar besar di India dan Bangladesh. Tetapi, satu sesi di acara itu juga akan dikhususkan membahas soal bagaimana menanam modal secara bertanggung jawab di negara itu. Diperkirakan 730.000 orang minoritas Muslim Rohingya melarikan diri dari kawasan tersebut akibat serangan tentara tahun 2017.

Misi pencari fakta PBB mengatakan tahun lalu bahwa serangan militer tersebut, yang para pengungsi katakan termasuk pembunuhan massal dan perkosaan, dilakukan dengan "tujuan genosida". Myanmar membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tindakan itu merupakan tanggapan sah terhadap ancaman pemberontak. Myanmar juga menyatakan menyambut baik kepulangan para pengungsi itu, demikian Reuters melaporkan.

Related News: U.N. chief in Myanmar concerned over fighting in Rakhine state

Myanmar berharap "Rakhine State Investment Fair", acara yang diadakan untuk pertama kali, akan membawa uang ke kawasan yang miskin itu. Pemimpin sipil Aung San Suu Kyi, yang di masa lalu mengatakan pembangunan ekonomi merupakan kunci untuk mengatasi ketegangan etnis dan agama yang sudah berlangsung lama, dijadwalkan akan memberikan sambutan pada Jumat.

Juru bicara Suu Kyi tidak menjawab permintaan dari Reuters melalui telepon untuk dimintai komentar.

Bulan lalu ketika ia membuka pertemuan investasi di Nypyitaw, ibu kota Myanmar, Suu Kyi sang peraih Hadiah Nobel berjanji akan membuat Myanmar menjadi negara yang menerima investasi dengan ramah.

Redaktur: Tia Mutiasari