Purwokerto (ANTARA News) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman, Wisnu Widjanarko mengingatkan agar para kandidat menggunakan komunikasi nonverbal yang tepat saat pelaksanaan debat capres.

"Gunakan komunikasi nonverbal yang tepat pada debat capres putaran kedua malam nanti," katanya di Purwokerto, Banyumas, Jateng, Minggu.

Wisnu Widjanarko yang merupakan Dosen manajemen strategis kehumasan, Program Magister Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed tersebut menjelaskan ketika tampil pada debat capres, para kandidat perlu menyesuaikan dengan kebiasaan dan apa yang diinginkan calon pemilih.

"Nonverbal yang ramah, mengajak, setara dan tidak instruktif akan lebih menggerakkan. Karena ada perasaan yang sama atau `dia adalah kita` pada calon pemilih atau asosiatif dengan yang dipilih," tuturnya.

Kepiawaian mengemas diri agar menarik saat tampil dalam debat, kata dia, juga sangat diperlukan.

"Mulai dari intonasi suara, mimik wajah, cara kita menatap dan bahasa tubuh, semuanya akan turut menjadi instrumen penentu dalam meyakinkan calon pemilih," ucapnya.

Selain itu, kata dia, perlu diperhatikan hal-hal kecil yang malahan bisa berdampak besar di mata calon pemilih.

"Contohnya, pakaian pun juga mempengaruhi, pilihan warna dan model pun kalau tidak pas, bisa kontraproduktif, karena membuat `audiens` tidak nyaman," ujarnya.

Sederhanya, tambah dia, mengabaikan nonverbal bisa potensial menggagalkan semua substansi dalam pelaksanaan debat.

Terkait intonasi, tambah dia, berarti perlu juga mengatur volume suara, kecepatan suara hingga jeda kalimat dengan tepat.

"Intonasi terlalu pelan, pengucapan yang tidak jelas, bisa mengesankan percaya diri yang kurang, tapi terlalu bergegas dan keras juga bisa dimaknai otoriter," tegasnya.

Dia menambahkan, mimik wajah yang mengesankan merendahkan lawan bicara juga perlu diperhatikan karena merupakan sesuatu yang perlu dihindari.

"Karena akan mengurangi simpati masyarakat meskipun secara esensi dirinya benar atau lawan debatnya keliru," katanya.