Mataram (ANTARA News) - Sepak bola merupakan cabang olah raga terfavorit di dunia. Permainan si kulit bundar ini digemari oleh hampir semua kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, baik di perkotaan maupun pelosok desa, tak terkecuali di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Di pelosok desa, anak-anak bermain sepak bola dengan bola plastik. Bahkan ada yang menggunakan bola dari jeruk bali atau kulit pisang kering yang digulung berbentuk bundar menyerupai bola. Jika, tak ada lapangan, warga pun cukup bermain bola di bawah kebun kelapa atau di sawah berlumpur.

Tidak jarang pemain bola berkelas dunia muncul dari pelosok desa. Mohamed Salah, anak desa di Mesir berhasil meniti prestasi dari bawah hingga menjadi pesepakbola berkelas dunia. Pria kelahiran Nagrig, sebuah desa pertanian di sebuah daerah terbuka yang hijau 100 mil di utara Kairo, Mesir.

Demikian juga di NTB, beberapa pesepakbola berbakat pernah memperkuat tim nasional (Timnas). Pulauhan tahun silam pesepakbola asal Kota Tua Ampenan Junaidi Abdillah pernah memperkuat tim nasional.

Tak hanya itu Emil Audero Mulyadi, pria kelahiran Mataram NTB, kini merumput di klub sepak bola raksasa Italia, Juventus. Kendati tak pernah meniti karir di Provinsi NTB, namun keberadaan pesepakbola berdarah Lombok itu cukup membanggakan Indonesia, khususnya NTB.

Beberapa pemain lain asal "Bumi Gora" juga ada yang merumput di klub-klub bergengsi. Ini agaknya yang menambah keyakinan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) NTB sejak setahun lalu mengembangkan potensi pemain-pemain usia muda agar menjadi pemain profesional di klub maupun tim nasional.

Ketua PSSI NTB H Suhaili FT memiliki keyakinan klub-klub kabupaten dan kota di NTB memiliki pesepakbola usia muda berbakat yang bisa digemleng untuk menjadi pemain nasional, bahkan internasional.

Ia mengaku sudah memiliki data base pemain dalam berbagai jenjang usia. Ini akan diprogramkan agar bisa mencapai level lebih baik. Karena itu PSSI NTB tengah merencanakan kompetisi dari berbagai kelompok umur sehingga ke depan pengembangan sepak bola di daerah ini menjadi lebih baik.

Dalam hal ini tentunya banyak faktor pendukung kapasitas sepak bola NTB. Karena itu PSSI NTB kan berupaya meningkatkan kapasitas itu dari aspek sistem, kelembagaan, dan sumber daya manusia.

Selain itu, Bupati Lombok Tengah dua periode ini berharap kepengurusan PSSI Asosiasi Provinsi (Asprov) NTB segera dilantik, setelah semua itu selesai, PSSI NTB segera menggelar rapat kerja untuk menyusun program empat tahun ke depan.

Suhaili mohon doa dari seluruh masyarakat NTB agar niat dan ihtiar dalam membangun sepak bola NTB mendapat Ridha dari Allah SWT. PSSI NTB juga mampu melahirkan pesepakbola usia muda berbakat.



Fokus pembinaan

Ungkapan senada juga diutarakan Wakil Ketua PSSI NTB Lalu Pathul Bahri yang juga Ketua PSSI Kabupaten Lombok Tengah, NTB tengah fokus pada pembinaan pemain di tingkat usia muda dengan harapan dapat berprestasi ebih baik di level nasional.

Belum lama ini PSSI NTB berhasil menggelar liga di berbagai jenjang dalam. Gelaran Liga 3, Liga Nasional U-17, Liga Pelajar U-16, Liga Nasional U-15, Liga Pelajar U-14 telah menobatkan PSKT Sumbawa Barat, Pesisum Sumbawa, PS Mataram dan Satya FC Lombok Tengah sebagai juaranya.

Dengan selesainya liga berbagai kelompok umur pada tingkat provinsi NTB tersebut, selanjutnya juara pada masing-masing kategori berhak mewakili NTB untuk berkompetisi pada tingkat Nasional. Untuk Liga Nasional PSSI yakni Liga 3, Liga u-17 dan Liga U-15 akan melakukan pertandingan play off nasional terlebih dahulu.

Selain PSSI NTB Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Lombok Tengah tahun 2019 ini akan mulai menggelar kompetisi sepak bola dengan sistem Liga untuk tiga kasta sekaligus, yakni Liga I, Liga II dan Liga III. Rencananya, kompetisi tersebut bakal bergulir mulai Bulan Maret mendatang.

Dari kompetisi tersebut diharapkan bisa menjadi ajang pembinaan atlet atau pesebakbola potensial di daerah ini sekaligus ajang seleksi untuk tim sepak bola Lombok Tengah.

Kompetisi ini juga bisa menjadi wahana pembinaan atlet sekaligus ajang pengembangan tim agar ke depan, dengan gelaran kompetisi yang rutin tim yang ada bisa berkembang menjadi tim-tim yang tangguh dan profesional.

Akankah muncul lagi pemain-pemain sepak bola berbakat dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional sekelas Junaidi Abdillah dan Emil Audero Mulyadi.

Tentunya ini sangat tergantung dari komitmen pemerintah melalui Asosiasi Kabupaten dan Asosiasi Kota PSSI di NTB untuk terus berupaya mencari pesepakbola berbakat terutama yang usia muda untuk dibina, termasuk pembinaan terhadap klub-klub yang ada di NTB.

Sejatinya pembinaan pesepakbola sejak usia dini dan dilakukan dengan upaya sungguh-sungguh akan melahirkan para pemain handal yang mampu mengukir prestasi di level nasional, bahkan internasional. Jadi, untuk melahirkan kembali Junaidi Abdillah yang lain agaknya bukan sebuah mimpi.*


Baca juga: Manajer tim U-15 Indonesia minta orang tua tidak campuri seleksi

Baca juga: Simon McMenemy: Pemain muda masuk timnas dengan syarat