Jakarta (ANTARA News) - Uni Eropa menyalurkan 300.000 euro (sekitar 4,8 milyar rupiah) sebagai dana kemanusiaan tambahan untuk memastikan kelanjutan pengiriman bantuan kepada masyarakat yang terkena tsunami yang melanda Selat Sunda pada Desember 2018.

Dana tersebut secara langsung bermanfaat bagi 6.000 orang yang paling parah terkena dampak tsunami, khususnya pengungsi di Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dana kemanusiaan kali ini merupakan tambahan dari bantuan Uni Eropa sebelumnya yaitu 80.000 euro untuk tanggap darurat untuk korban tsunami Selat Sunda.

"Bantuan ini merupakan solidaritas kami dengan rakyat Indonesia, terutama bagi para korban yang kehilangan rumah, mata pencaharian, maupun benda-benda berharga mereka," ujar Komisaris untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis Uni Eropa Christos Stylianides dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Bantuan tambahan tersebut dapat digunakan untuk mendukung upaya mitra Uni Eropa dalam rangka mengatasi kebutuhan para pengungsi dan membantu mereka untuk bangkit kembali secepat mungkin, ujar Stylianides.

Bantuan Uni Eropa akan fokus pada pemberian bantuan melalui distribusi dana tunai kepada orang-orang yang terkena dampak tsunami Selat Sunda.

Upaya tersebut memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan paling mendesak seperti bahan makanan, air, dan barang-barang lainnya.

Bantuan tersebut akan diprioritaskan untuk kelompok-kelompok rentan, termasuk orang tua, kaum difable, janda, yang saat ini tinggal di pemukiman sementara maupun kamp pengungsian yang tersebar di daerah pedesaan, pesisir dan pinggiran kota.

Peralatan kebersihan juga akan diberikan kepada kaum perempuan agar praktik kebersihan tetap terjaga dengan baik.

Lebih dari 430 orang tewas dan sekitar 14.000 lainnya menderita luka-luka ketika tsunami dahsyat menghantam masyarakat pesisir Selat Sunda pada 22 Desember.

Peristiwa itu juga memicu gelombang pasang yang kuat setinggi enam meter.

Tsunami terjadi disebabkan letusan gunung berapi anak krakatau.

Lebih dari 2.700 rumah rusak dan lebih dari 40.000 orang kehilangan tempat tinggal --banyak dari mereka saat ini tinggal di lokasi pengungsian dengan akses terbatas ke layanan-layanan dasar.

Sejumlah fasilitas dan infrastruktur publik, hotel, resor dan kapal --sumber mata pencaharian utama bagi banyak orang-juga hancur atau rusak.

Uni Eropa beserta negara anggotanya merupakan donor bantuan kemanusiaan terkemuka di dunia. Bantuan darurat merupakan ungkapan solidaritas Eropa terhadap orang-orang yang rentan di seluruh dunia.

Bantuan ini ditujukan untuk menyelamatkan hidup, mencegah dan mengurangi penderitaan manusia, dan menjaga integritas dan martabat manusia dari mereka yang terkena dampak bencana alam dan krisis buatan manusia.

Melalui departemen Operasi Perlindungan Sipil dan Bantuan Kemanusiaan (ECHO), Uni Eropa membantu jutaan korban konflik dan bencana setiap tahunnya. Dengan markas di Brussels dan jaringan global berupa kantor-kantor lapangan, Uni Eropa memberi bantuan kepada orang-orang yang paling rentan berdasarkan kebutuhan kemanusiaan.*


Baca juga: Uni Eropa bantu Rp1,3 miliar korban tsunami Selat Sunda

Baca juga: Sokongan masyarakat Internasional untuk pemulihan Sulawesi Tengah