Nablus, Palestina, (ANTARA News) - Selama 16 tahun, dengan pengecualian hanya beberapa kali dan itu pun tak lama, Kamel Khatib dulu biasa bertemu dengan ibunya dari balik penghalang kaca.

Ia tak bisa memegang ibunya, memeluknya, atau menciumnya. Mereka cuma bisa berbicara sebentar melalui telepon, sekali sebulan atau setiap kali ibunya bisa mengunjunginya --yang kadangkala memerlukan waktu bertahun-tahun.

Akhirnya, Kamel Khatib mendapat kesempatan pada Kamis (10/1), dan untuk pertama kali dalam 16 tahun, untuk bersama ibunya sepanjang waktu, tanpa penghalang kaca yang memisahkan mereka, dan bisa memeluk ibunya serta menciumnya selama ia mau.

Tapi pertemuan itu tak berlangsung lama; tak sampai 24 jam sesudahnya, ibunya meninggal.

Kamel Khatib (41), dari Kamp Pengungsi Balata di Kota Nablus di bagian utara Tepi Barat Sungai Jordan, telah menghabiskan waktu 16 tahun di balik jeruji. Ia menjalani masa tahanan karena menentang pendudukan Israel yang menjijikkan atas negerinya.

Melawan pendudukan buat dia bukan hanya hak, tapi juga kewajiban nasional yang telah ia pelajari dari ibunya sebelum yang lain, tak peduli berapapun harga yang mereka berdua harus bayar.

Ketika Kamel Khatib dibebaskan dari penjara pada Kamis, setelah penundaan selama beberapa jam, ia bergegas untuk pergi ke Rumah Sakit Al-Ittihad di Nablus, tempat ibunya yang menderita sakit kronis berada dalam koma.

"Pembebasan saya ditunda beberapa jam, sebab mereka (Dinas Penjara Israel) terus mengubah tempat bagi pembebasan saya sekalipun mereka sangat mengetahui bahwa ibu saya menderita sakit parah dan ia berada pada saat-saat terakhirnya di ruang perawatan intensif. Mereka cuma mau merusak pertemuan saya dengan ibu saya," kata Kamel Khatib kepada koresponden WAFA --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi. Ada kepahitan dalam nada suaranya sebab ia dihalangi menghabiskan waktu yang berharga bersama ibunya.

"Saya sampai di rumah sakit beberapa jam kemudian. Saya mencium kepalanya dan menggenggam tangannya. Ia koma, tapi saya bisa merasakan tekanan jarinya di tangan saya dan membuka satu matanya lalu menutupnya lagi," kata Kamel Khatib.

Baca juga: Ashrawi: "jalan apartheid" israel ancam keamanan dan perdamaian internasional
Baca juga: PLO kutuk kunjungan pejabat AS, Israel ke Jerusalem

Menghembuskan nafas terakhir

Pada Jumat malam, Khadija Khatib, ibu Kamel Khatib, dinyatakan meninggal, dalam usia 78 tahun.

Rekaman video Kamel Khatib bersama ibunya, yang telah meninggal, memperlihatkan ia mencium kening ibunya 17 kali setelah ia menyingkap penutup muka ibunya.

Pada Agustus 2017, Kamel Khatib diizinkan untuk pertama kali bersama ibunya, ketika ibunya mengunjungi dia di penjara. Itu adalah untuk pertama kali sejak 12 Februari 2003, ketika tentara Israel menangkap dia setelah bentrokan bersenjata di Nablus, kedua orang tersebut bisa saling bersentuhan, berpelukan dan mencium satu sama lain.

Ibunya saat itu sudah sakit dan duduk di kursi roda. Bahkan saat itu, Kamel Khatib sudah tidak bertemu dengan ibunya selama lima tahun, sebab ibunya dilarang menemui putranya.

Setahun kemudian, ketika ibunya kembali mengunjungi dia, penjaga penjara tidak mengizinkan mereka bersama tanpa penghalang kaca yang memisahkan mereka.

"Saya tidak lupa perkelahian yang saya hadapi dengan para penjaga penjara pada Agustus lalu, ketika mereka tak mengizinkan saya bersama ibu saya dan ingin memisahkan dia di balik penghalang kaca," kata Kamel Khatib. "Ia tak bisa melihat saya. Ia tak bisa bergerak dan dibatasi di kursi roda. Tapi beberapa menit kemudian saya bisa bersama dia dan mencium serta memeluk dia. Ia mencium saya dan saya menyadari bahwa itu adalah ciuman terakhirnya."

Kamel Khatib berbicara dengan bangga mengenai ibunya dan waktu yang ia lalui untuk melawan pendudukan Israel.

"Ibu saya seorang petarung, bahkan sejak sebelum Intifada (perlawanan) pertama dan selama Intifada kedua. Ia adalah petarung yang tak pernah berhenti melawan tentara Israel setiap kali mereka menyerbu Kamp Balata. Kadang-kala, ia menghadapi tentara Israel untuk membebaskan seseorang yang mereka tangkap," katanya.

"Ia adalah ibu para tahanan dan petarung. Ia akan menampung mereka dan memberi mereka makanan dan air. Ia kadangkala dipukuli oleh tentara Israel. Kami mewarisi dari dia semangat perlawanan terhadap pendudukan," kata Kamel Khatib.

Kamel Khatib juga telah kehilangan dua saudara laki-lakinya, yang meninggal saat ia masih mendekam di dalam penjara Israel.

Redaktur Gusti Nur Cahya Aryani