Musibah gempa beruntun telah memorakporandakan Pulau Lombok dan sebagian wilayah Pulau Sumbawa. Diawali musibah gempa di penghujung Juli, tepatnya pada 29 Juli 2018 dengan magnitudo 6,4.

Belum pulih trauma akibat gempa yang meluluhlantakkan permukiman penduduk di lereng Gunung Rinjani (3.276 meter di atas permukaan laut), sepekan kemudian kembali terjadi gempa dahsyat dengan magnitudo 7,0.

Musibah gempa bumi yang telah menghancurkan ribuan bangunan, terutama rumah warga dan menelan ratusan korban jiwa, kembali terjadi gempa dengan magnitudo 7,0 dan magnitudo 6,2. Bencana gempa bumi yang diikuti ratusan kali gempa susulan itu menyisakan kesedihan dan trauma mendalam bagi masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Mencermati catatan sejarah kegempaan yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setidaknya Lombok dan NTB umumnya telah delapan kali diguncang gempa besar, diantaranya 162 tahun silam, tepatnya 25 Juli 1856. Selanjutnya pada 10 April gempa dengan magnitudo 6,7 mengguncang Lombok mengakibatkan tidak sedikit rumah masyarakat hancur.

Gempa dahsyat disertai air laut naik dan menerjang permukiman warga, yang kemudian dikenal dengan nama tsunami terjadi pada Jumat, 19 Agustus 1977, sekitar pukul 13.00 WITA di Aik Ketapang, Desa Lunyuk Besar, Kabupaten Sumbawa.

Pusat gempa yang terjadi pada bulan suci Ramadhan itu berada di Samudera Indonesia, sebelah barat daya Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo 8 pada kedalaman 33 kilometer. Gempa dahsyat itu didahului gempa dengan magnitudo 6,2. Kendati tidak menyebabkan banyak bangunan rusak, namun musibah itu menelan sedikitnya 198 korban jiwa.

Sejatinya Provinsi NTB rawan musibah gempa bumi karena terletak di antara patahan aktif. Menurut catatan sedikitnya 14 kali terjadi gempa disertai tsunami, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa, kendati tidak sedahsyat gempa disertai tsunami di Provinsi Aceh pada 26 Desember 2004.

Kabupaten Lombok Utara merupakan satu dari sepuluh kabupatan/kota di Provinsi NTB yang menjadi "langganan" gempa. Menurut catatan sejarah kegempaan pada 30 Mei 1979 terjadi gempa dengan magnitudo 6,1 yang menelan 29 korban jiwa dan 295 rumah rusak. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 20 Januari 1984 terjadi gempa bumi dengan magnitudo 6,2.

Pada gempa yang mengguncang kabupaten termuda di Provinsi NTB itu tercatat 2.224 rumah warga rusak, belum termasuk 24 masjid dan tujuh sekolah, kemudian pada 22 Juni 2013 kabupaten dengan moto "Tiok Tata Tunak" itu kembali diguncang gempa bermagnitudo 5,4, tercatat 5.286 rumah rusak.

Musibah gempa terkini terjadi secara beruntun mulai 29 Juli 2018 menyebabkan sedikitnya 83.392 unit rumah rusak yang tersebar di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Kota Mataram serta yang terbanyak di Kabupaten Lombok Utara mencapai 23.098 unit.

Kini sudah enam bulan bencana itu berlalu, namun masih menyisakan derita dan beban hidup cukup berat. Ada sebagian warga yang mendapat bantuan hunian sementara (huntara) dari sejumlah donatur. Namun masih ada sebagian warga yang terpaksa tinggal di tenda darurat terbuat dari terpal.

Pada tahap restrukturisasi pascagempa di Provinsi NTB, pemerintah menawarkan sejumlah opsi rumah yang dibangun untuk masyarakat, yakni rumah instan sederhana sehat (risha), rumah konvensional (riko) dan rumah kayu (rika). Pemerintah menjamin semua jenis hunian tetap itu tahan gempa.



Trauma Beton

Dari tiga jenis rumah yang ditawarkan pemerintah itu sebagian warga Lombok, khususnya di Kabupaten Lombok Utara menolak rumah yang berbahan beton, termasuk risha, karena beberapa kali terjadi musibah gempa rumah mereka hancur rata dengan tanah. Warga trauma dengan rumah yang temboknya terbuat dari beton.

Muin (60), warga Dusun Telok Dalam, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, mengaku trauma membangun rumah beton, karena tiga rumahnya yang terbuat dari batako dengan konstruksi tulang besi beton hancur diguncang gempa.

Pria setengah baya yang bekerja sebagai peternak itu mengaku lebih nyaman tinggal di rumah sederhana, berdinding gedeg dan bertiang kayu, dibandingkan dengan rumah batu yang terbuat dari batako dan bertiang beton.

Pengakuan senada juga diutarakan Sapri (56) yang mengaku merasa puas dengan rumah bantuan dari Darut Tauhid (DT) Peduli, yayasan milik KH Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym. Rumah yang berdinding anyaman bambu (gedeg) dan bertiang kayu ini lebih tahan gempa dibandingkan dengan rumah batu.

Ia mengaku lebih tenang dan nyaman tinggal di rumah sederhana itu dibandingkan dengan risha, kendati kekuatannya sudah dijamin tahan dari guncangan gempa di atas magnituo 7 hingga 8. Pria yang bekerja sebagai petani ini mengaku dua rumahnya berdinding batako dengan konstruksi beton hancur diguncang gempa beberapa tahun lalu termasuk yang terjadi tahun 2018.

Sejatinya ketakutan masyarakat untuk tinggal di rumah batu itu dapat dipahami, karena berkali-kali rumah yang dibangun dengan susah payah hancur dan rata dengan tanah diguncang gempa. Karena itu mereka ingin kembali tinggal di rumah berbahan kayu dan berdinding gedeg, seperti para orang tua mereka dulu.

Arsitek bangunan di Lombok mengenal bale balaq dan bale jajar. Jenis rumah yang mengadopsi dan memelihara kearifan lokal ini berbahan kayu, bambu dan atap daun kelapa kering yang dikenal dengan "atep bobok". Jenis rumah ini telah terbukti tahan terhadap guncangan gempa kendati mencapai diatas magnitudo 7,0.

Terkait dengan rumah hunian tetap tahan gempa itu, sejumlah arsitek menawarkan arsitektur bangunan yang tanggap bencana yang pembangunannya dengan mengadopsi kearifan lokal, karena rumah tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini telah terbukti tahan gempa. Salah seorang diantaranya arsitek Yu Sing.

Arsitek Yu Sing mengatakan arsitektur yang tanggap bencana dapat dilakukan dengan mengadopsi dan memelihara kearifan budaya lokal seperti rumah tradisional yang berbahan kayu yang cocok untuk wilayah rawan gempa.

Ia mengatakan kalau mau belajar yang paling banyak yang sudah dilakukan oleh masyarakat adalah rumah-rumah tradisional. Sering kali rumah tradisional atau rumah adat itu berada pada posisi yang lebih tepat.

Yu Sing dalam kuliah umum "Arsitektur yang Tanggap Bencana" di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta belum lama ini mengatakan posisi yang tepat menurut Yu Shing, misalnya rumah itu tidak berdiri di tempat yang memang akan terkena banjir atau karena sering mengalami gempa maka bangunannya harus fleksibel dengan menggunakan material-material alam.

Arsitek muda yang lahir di Bandung pada 5 Juli, 36 tahun silam mengatakan kalau pun akan terkena banjir dia tahu, maka dia akan membuat tiang yang tinggi atau bangunannya terapung. Ini merupakan kearifan lokal

Dia mengatakan arsitektur tanggap bencana sangat bergantung pada jenis bencana yang harus disikapi, misalnya ketika terjadi bencana, maka rumah itu akan relatif mampu untuk bertahan atau kalaupun rusak tidak sampai membunuh orang yang tinggal di dalamnya.

Yu Sing menuturkan arsitektur tradisional sesungguhnya mencerminkan bagaimana warga membangun rumah dalam upaya mereka untuk menyikapi dan hidup bersama-sama dengan alam sehingga warga pada awalnya memang sudah beradptasi pada keadaan alam dan bencana.

Namun, saat ini sudah banyak warga yang meninggalkan kearifan lokal dan mulai membangun rumah dengan tembok dan beton tanpa memperhatikan konsep ketahanan terhadap bencana.

Ironisnya karena keterbatasan biaya, warga membangun rumah tidak layak huni dan tidak sesuai standar untuk menghadapi bencana padahal bencana sering terjadi di Indonesia seperti gempa. Karena tidak cukup biaya, mereka membuat tembok seadanya, sehingga strukturnya tidak tahan gempa.

Ia menyontohkan rumah yang dibangun tidak sesuai standar tahan bencana telah menelan banyak korban jiwa seperti yang terjadi di Lombok pada 2018.

Material industri memang dapat digunakan untuk membangun bangunan tanggap bencana, namun menurut dia, biaya yang dibutuhkan akan jauh lebih besar, dan ekonominya akan berputar pada ekonomi pemodal kuat yang memiliki industri-industri itu sehingga mengembangkan sistem ekonomi kapitalisme.

Berangkat dari permasalahan itu, maka kesadaran akan pentingnya arsitektur tanggap bencana dengan memanfaatkan dan mengelola material alam harus dibumikan untuk menghindari banyak korban saat terjadi bencana.

Yu Sing yang merupakan lulusan S1 Arsitektur Institut Teknologi Bandung itu menyatakan sudah saatnya masyarakat harus kembali kepada alam, menjadi manusia tropis dan kembali mengelola alam.

Untuk pengembangan arsitektur tanggap bencana berbahan material alam seperti kayu, maka hal yang juga harus diperhatikan adalah ketersediaan bahan baku sehingga pengelolaan alam harus dilakukan dengan baik dan berkelanjutan.

Ketika kesadaran akan pentingnya pemanfaatan material alam, maka secara tidak sadar kepedulian terhadap pengelolaan alam akan bertumbuh karena untuk menjamin ketersediaan bahan baku dari alam.

Selain itu, teknologi pemanfaatan potensi alam untuk pembangunan arsitektur tanggap bencana juga harus dikembangkan dari waktu ke waktu. Di luar negeri, dengan teknologi, bangunan 70-80 persen berlantai kayu.

Dari pengalaman buruk, khususnya terkait dengan bangunan rumah yang tidak tahan gempa, terutama di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang rawan gempa bumi dan bencana lainnya, maka sudah saatnya masyarakat memperhatikan kearifan lokal dalam membangun rumah tempat tinggal yang bersahabat dengan alam dan yang paling penting tahan guncangan.*



Baca juga: Panglima libatkan Babinsa fasilitator hunian tahan gempa

Baca juga: Aktivis tawarkan konsep rumah kayu super murah