Jakarta, (ANTARA News) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian menggandeng swasta untuk memproduksi dalam skala besar teknologi veteriner yang telah dihasilkan Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet).

Sekretaris Badan Litbang Pertanian, Prama Yufdy ketika membuka Workshop and Training on Emerging and Re-emerging Zoonotic Disease in Indonesia di Bogor, Senin mengatakan, berbagai teknologi veteriner yang meliputi teknologi vaksin, diagnosa penyakit, obat herbal, metode diagnosa penyakit, antigen, dan lainnya, telah dihasilkan oleh BB Litvet.

"Teknologi vaksin untuk penyakit hewan strategis telah dihasilkan dan dikerjasamakan dengan pihak swasta untuk diproduksi dalam skala besar dalam bentuk lisensi agar bisa dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat", ujar Prama Yufdy.

Kegiatan Workshop and Training on Emerging and Re-emerging Zoonotic Disease in Indonesia dilaksanakan dalam upaya peningkatan dan pemahaman terhadap penyakit serta upaya penanganan dan pencegahannya sekaligus menyambut 110 tahun BB Litvet.

Acara tersebut membahas tentang penyakit penting yang sedang dicari solusinya, penanganan dan pengendaliannya baik penyakit yang baru muncul maupun penyakit yang pernah muncul tetapi muncul kembali.

"Selama ini BB Litvet terus berperan aktif dalam pembangunan nasional khususnya peternakan di bidang veteriner", kata Sekretaris Badan Litbang Pertanian.
Teknologi Veteriner hasil penelitian Balai Besar Veteriner Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Kepala BB Litvet, NLP Indi Dharmayanti mengungkapkan, lembaganya telah menghasilkan berbagai vaksin seperti vaksin Avian Influenza (Flu Burung) untuk unggas, vaksin penyakit Tetelo (Newcastle Disease) untuk unggas, Vaksin Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) untuk mencegah penyakit keguguran pada sapi, vaksinVTEC untuk menekan angka kematian anak sapi, dan vaksin ETEC untuk menekan angka kematian anak babi.

"Selain itu beberapa teknologi lainnya yang sudah siap untuk dikerjasamakan dengan pihak swasta. Teknologi veteriner yang dihasilkan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya sasaran strategis pembangunan pertanian khususnya bidang peternakan," katanya.

Selain menghasilkan produk teknologi veteriner, lanjutnya, secara simultan dari hasil penelitian diperoleh informasi penyakit-penyakit penting terutama yang bersifat zoonosis, baik yang belum pernah dilaporkan sebelumnya (emerging disease) maupun yang muncul kembali setelah lama tidak dilaporkan (re-emerging disease).

Informasi penyakit tersebut, tambahnya, penting untuk diketahui oleh pihak-pihak tertentu yang terkait dalam rangka untuk ikut serta dalam pencegahan dan penanggulangannya.

Dia menjelaskan Emerging Disease merupakan infeksi yang baru muncul dalam sebuah populasi dan meningkat secara cepat dalam sebuah wilayah geografis, sedangkan Re-emerging disease adalah infeksi yang muncul kembali setelah terjadi penurunan yang signifikan atau infeksi yang pernah ada sebelumnya dan sekarang muncul kembali dengan peningkatan yang cepat. Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

"Ketersediaan sumberdaya manusia di BB Litvet yang sangat kompeten dibidangnya serta dukungan peralatan yang lengkap dan fasilitas laboratorium seperti laboratorium bioteknologi, laboratorium BSL3 zoonosis, dan laboratorium BSL3 moduler yang tidak semua institusi memilikinya dan fasilitas pendukung lainnya sangat menunjang dalam pelaksanaan penelitian emerging dan re-emerging zoonotic diseases di Indonesia", ujar Indi.

BB Litvet, tambahnya, terus melakukan pengembangan riset virus-virus yang lama dan virus baru yang timbul dari virus yang lama. Hal itu agar mudah mendekteksi dari penyakit yang baru muncul tersebut sehingga bisa diantisipasi dan bisa dicegah lebih cepat baik penularan melalui manusia lewat manusia, maupun dari hewan ke manusia.


Baca juga: Kementan produksi massal vaksin H5N1 clade 2.3.2

Baca juga: Kementan kaji vaksin terbaik untuk flu burung