Sudan naikkan subsidi tepung 40 persen untuk turunkan harga roti
4 November 2018 16:28 WIB
Warga bernyanyi dalam sebuah aksi menjelang referendum di Abyei, Sudan, Sabtu (26/10). Warga di kawasan perbatasan Abyei yang terisolasi mengatakan mereka akan mendesak referendum mengenai apakah mereka akan bergabung dengan Sudan atau Sudan Selatan, meskipun telah diperingatkan akan kemungkinan terpicunya kekerasan di wilayah tersebut. (ANTARA FOTO/REUTERS/Goran Toma)
Kairo (ANTARA News) - Sudan menaikkan subsidi tepung sebesar 40 persen, kata Kementerian Keuangan pada Sabtu (3/11), setelah pengurangan subsidi tahun ini membuat harga-harga roti lebih tinggi dan memicu protes.
Pemerintah akan menghabiskan dana sebesar 35 juta pound Sudan (sekitar Rp10,99 miliar) tiap hari, bukan 25 juta, demikian dinyatakan kementerian itu.
Keputusan untuk mengurangi subsidi roti tahun ini memicu gelombang protes yang jarang terjadi di seluruh negeri setelah harga roti naik dua kali lipat. Inflasi merambat naik hingga mencapai 66 persen pada Agustus, salah satu tingkat tertinggi di dunia.
Sudan menghadapi masalah ekonomi sejak bagian selatan memisahkan diri tahun 2011 dan menjadi negara merdeka bernama Sudan Selatan. Penghasilan minyak Sudan berkurang tiga perempat akibat pemisahan itu sehingga mencabut sumber devisa bagi Khartoum.
Sudan pada Oktober menurunkan nilai mata uangnya setelah sekelompok bank dan perusahaan-perusahaan penukaran uang ditugaskan menetapkan nilai tukar mata uang negara itu berdasarkan sistem baru yang dibuat pemerintah guna mengatasi kekurangan mata uang asing.
Baca juga: DK PBB jatuhkan embargo senjata terhadap Sudan Selatan
Sumber: Reuters
Editor: Mohamad Anthoni
Pemerintah akan menghabiskan dana sebesar 35 juta pound Sudan (sekitar Rp10,99 miliar) tiap hari, bukan 25 juta, demikian dinyatakan kementerian itu.
Keputusan untuk mengurangi subsidi roti tahun ini memicu gelombang protes yang jarang terjadi di seluruh negeri setelah harga roti naik dua kali lipat. Inflasi merambat naik hingga mencapai 66 persen pada Agustus, salah satu tingkat tertinggi di dunia.
Sudan menghadapi masalah ekonomi sejak bagian selatan memisahkan diri tahun 2011 dan menjadi negara merdeka bernama Sudan Selatan. Penghasilan minyak Sudan berkurang tiga perempat akibat pemisahan itu sehingga mencabut sumber devisa bagi Khartoum.
Sudan pada Oktober menurunkan nilai mata uangnya setelah sekelompok bank dan perusahaan-perusahaan penukaran uang ditugaskan menetapkan nilai tukar mata uang negara itu berdasarkan sistem baru yang dibuat pemerintah guna mengatasi kekurangan mata uang asing.
Baca juga: DK PBB jatuhkan embargo senjata terhadap Sudan Selatan
Sumber: Reuters
Editor: Mohamad Anthoni
Pewarta: Antara
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2018
Tags: