San Francisco (ANTARA News) - Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Al Gore membahas bencana iklim Siklon Florence dan Mangkhut yang sedang mendekati pesisir Amerika Serikat, China dan Hong Kong dalam pertemuan Cities4Climate: The Future Is Us di Balai Kota San Francisco, Kamis.

Al Gore mengatakan bukti adanya perubahan iklim terlihat jelas dengan adanya badai besar yang mendekati pesisir sisi Tenggara AS, salah satu dampaknya mungkin peningkatan muka air laut.

Secara ilmiah, menurut dia, banyak hasil penelitian para ilmuwan yang menyebutkan pengaruh perubahan iklim membuat kekuatan siklon cepat berubah menjadi besar, meningkat cepat dari kategori tiga, empat hingga ke-lima.

Dan mungkin baru pertama kali dalam sejarah di dunia bahwa dalam waktu tiga hari muncul dua siklon besar yang terjadi di Atlantik dan Pasifik, kata Al Gore. Jika AS menghadapi Siklon Florence maka Hong Kong menjadi sasaran bencana iklim lebih besar yakni Siklon Mangkhut.

Dalam 30 tahun terakhir, sebutnya jumlah badai atau siklon di dunia semakin bertambah. Sementara jumlah kebakaran hutan juga meningkat, seperti yang terjadi di California dan negara lainnya.

Siklon Florence, Al Gore menambahkan mengingatkannya pada peristiwa banjir di Houston yang baru saja terjadi setahun lalu. "Ini sangat tidak biasa".

Es di Kutub Utara sudah meleleh tiga tahun terakhirm, bahkan, es meleleh saat malam justru lebih lama dan matahari hanya sebentar bersinar.

Al Gore juga mencontohkan badai besar yang baru saja menerjang Jepang dan memaksa Bandar Udara Osaka di Jepang tidak bisa beroperasi dan ribuan orang terpaksa terjebak di dalamnya.

Dan terakhir, Al Gore menyebutkan bukti adanya perubahan iklim adalah Afrika Selatan menyatakan krisis air tepat setahun lalu. Semua bukti bencana iklim tersebut nyata, dan perlu diatasi bersama.*

Baca juga: Menyertakan masyarakat adat kendalikan iklim

Baca juga: Studi: hilangnya salju di Swiss mungkin berkaitan dengan pemanasan global