Lebak (ANTARA News) - Narasi "Max Havelaar" karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, terutama kisah "Saidjah dan Adinda" yang ada disalah satu bab novel tersebut dapat menjadi daya tarik Kabupaten Lebak, Banten.

"Narasi Saidjah dan Adinda bisa terus dikembangkan, hal ini bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat di luar Lebak untuk datang ke sini karena narasi tersebut," kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid saat pembukaan Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung, Kamis.

Dia mengatakan Multatuli saat menulis novel tersebut dipenuhi rasa marah, setelah dirinya gagal mengubah ketidakadilan yang terjadi pada masyarakat Lebak.

Menurut Hilmar, bagian cerita Saidjah dan Adinda yang berfokus pada percintaan dua rakyat jelata ini sangat diperlukan dalam khazannah sastra.

"Cerita ini mencatat bahwa cinta juga tumbuh di tengah kepedihan, dan cinta mereka abadi," kata Hilmar.

Gagasan Multatuli yang dituangkan dalam novel tersebut juga telah membuat masyarakat Eropa dan beberpaa tokoh Indonesia pada saat itu tercerahkan mengenai betapa buruknya sistem penjajahan.

Beberapa tokoh nasional yang terinspirasi dari novel tersebut antara lain Sukarno, Kartini dan Pramoedya.

Hilmar juga meminta pemerintah daerah Lebak untuk memberi ruang berekspresi dan menghidupkan narasi Max Havelaar kepada anak-anak muda Lebak

Sejarawan Bonnie Triyana mengatakan narasi Max Havelaar memang menjadi kekuatan bagi Lebak, terutama Rangkasbitung.

Memang penyair lokal Lebak juga banyak, salah satunya W.S Rendra, namun novel Max Havelaar telah mendunia dan gagasannya telah menginspirasi banyak tokoh nasional untuk memperjuangkan kesetaraan.

"Kita di sini tidak mengkultuskan Multatuli, tetapi kita mengapresiasi gagasannya dalam novel Max Havelaar," kata dia.

Bonnie mengatakan narasi tersebut dapat mengundang orang untuk datang ke tempat tersebut.

"Dulu kalau orang ke sini, mau cari tahu tentang Multatuli tidak tahu kemana, sekarang sejak ada Museum Multatuli memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi," kata dia.

Dia mengatakan Multatuli atau Douwes Dekker memang hanya sekitar tiga bulan tinggal di Lebak sebagai asisten residen sejak Januari 1856. Dia pindah dari Lebak, setelah berselisih dengan atasannya.

Tetapi penderitaan yang dialami rakyat Lebak telah menginspirsi dia untuk menulis novel yang terbit pada 1860 itu saat dia tinggal di Brussel, Belgia.

Buku tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada 1972 oleh HB Jassin.

Menurut M. C. Ricklefs, roman Max Havelaar mengungkapkan dengan sangat pas keadaan pemerintah kolonial yang sangat zalim dan korup di Jawa. Roman itu menjadi senjata ampuh dalam menentang rezim penjajahan pada abad XIX di Jawa.
Selaras dengan Ricklefs, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan dengan novel terkenalnya Tetralogi Buru dalam wawancara tahun 1992 oleh televisi IKON dari Belanda, mengatakan bahwa Max Havelaar adalah roman yang membunuh kolonialisme Belanda.

Lebih jauh menurut Pram, seorang politikus yang tidak mengenal Multatuli pasti tidak mengenal humanisme dan sejarah.


Museum dan festival

Pada tahun 2015 berdiri Museum Multatuli, menempati bangunan bekas kantor Kawedanan Rangkasbitung (1923).

Museum yang terdiri atas tujuh ruangan ini menampilkan empat tema besar, yaitu antikolonialisme, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta Rangkasbitung masa kini.

Sementara itu Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan sejak adanya Museum Max Havelaar jumlah wisatawan ke Rangkasbitung bertambah.

Kebanyakan mereka ingin mengunjungi museum tersebut, menurut datanya dari awal dibuka hingga saat ini sudah ada 13 ribu pengunjung datang ke museum.

Mereka datang dari berbagai latar belakang, banyak juga dari pengunjung dari mancan negara. Paling banyak adalah turis dari Belanda.

Dia pun berharap narasi Max Havelaar terutama cerita Saidjah dan Adinda dapat menjadi daya tarik wisatawan.

Tahun in untuk pertama kalinya Kabupaten Lebak bersama komunitas dan Kemendikbud menggelar Festival Seni Multatuli.

Kegiatan tersebut digelar empat hari mulai 6-9 September 2018, dalam festival tersebut akan ada bedah buku puisi "Kepada Toean Dekker" dan juga simposium.

Festival Seni Multatuli 2018 ini memiliki keunikan dibandingkan dengan festival lainnya yaitu merespons gagasan Multatuli ke dalam bentuk-bentuk lainnya seperti teater, puisi, musik, seni rupa, bahkan opera.

Selain itu ada juga 10 komunitas teater Banten yang juga merespons berdasarkan novel Multatuli. Ditambah lagi dengan pementasan “Opera Saija-Adinda” yang digarap oleh pianis Ananda Sukarlan

Iti berharap festival tersebut juga dapat menarik perhatian wisatawan dan generasi melenial untuk mengenal sejarah Lebak.

Mereka pun berupaya untuk menampilkan acara yang juga dapat dinikmati oleh kaum muda.

"Generasi melenial ini banyak maunya, makanya kami rancang festival seni yang dapat diterima oleh mereka. Jika memaparkan sejarah saja kepada mereka, pasti sulit diterima. Dengan bentuk yang berbeda, maka nilai-nilai kemanusiaan tersebut lebih dapat diterima," kata dia.

Dia harap festival tersebut dapat menarik penunjung dan juga menjadi ajang tahunan Kabupaten Lebak.

Ke depan dia berencana untuk membuat film Saidjah dan Adinda agar narasi tentang kemanusiaan tersebut dapat terus hidup.

Baca juga: Lebak gelar Festival Seni Multatuli