Jakarta, 16/7 (Antara) - Peneliti Senior Lingkar Survei Indonesia Adjie Alfarabi menilai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko salah satu kandidat kuat calon wakil presiden (Cawapres) karena minim resistensi dari partai politik anggota koalisi pendukung pemerintah.

"Moeldoko yang berlatar belakang militer dan pernah menduduki jabatan Panglima TNI adalah representasi profesional, sehingga tidak menghadapi resistensi dari partai-partai politik koalisi pendukung Jokowi," kata Adjie Alfarabi ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Senin.

Dalam rilis hasil survei oleh LSI yang dilakukan Selasa (10/7) pekan lalu, Moeldoko masuk dalam lima nama yang diprediksi kuat menjadi cawapres untuk Jokowi.
Selain Moeldoko, ada juga nama Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Sri Mulyani, dan Tito Karnavian.

Terlepas dari persaingan tersebut, menurut Adjie, kelebihan lain Moeldoko adalah punya kedekatan dengan Presiden Joko Widodo dan saat ini dipercaya menjadi Kepala KSP yang merupakan jabatan strategis di lingkungan Istana.

"Jika dipilih sebagai cawapres, Moeldoko dapat mengimbangi kompetitor Jokowi pada pemilu presiden 2019," katanya.

Adjie menjelaskan pesaing Joko Widodo pada pemilu presiden 2019 adalah Prabowo Subianto yang diusung oleh Partai Gerindra bersama partai politik mitra koalisinya.

Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto berlatar belakang militer dan pernah menduduki jabatan sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Pesaing lain yang mungkin Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mantan Panglima TNI.

"Moeldoko yang berlatar militer, dapat mengimbangi kompetitor Jokowi yang juga militer," katanya.

Pada kesempatan berbeda, pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin menilai, suara pemilih yang menyukai figur militer diharapkan tidak terkonsolidasi ke kubu Prabowo atau Gatot Nurmantyo.

"Tetapi dapat terbagi ke kubu petahana jika Moeldoko yang menjadi cawapres Jokowi," kata Said kepada wartawan.

Ia menjelaskan bahwa latar belakang militer Moeldoko juga dibayangkan dapat dijadikan sebagai perisai untuk menepis kritik dari sebagian masyarakat.

Selama ini ada sebagian masyarakat menilai Jokowi tidak memiliki keberpihakan terhadap kedaulatan bangsa karena lebih pro kepada asing dan 'aseng'.

Namun di luar beberapa kelebihan itu, Moeldoko masih punya pekerjaan rumah bila ia memang dipercaya sebagai Cawapres pendamping Jokowi.

"Jika Moeldoko mendapatkan dukungan dari kalangan ulama dan umat Islam tentu memiliki skor plus," ujar Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute Karyono Wibowo.
Dia menjelaskan secara umum salah satu isu yang kerap dipertimbangkan dalam menentukan cawapres adalah isu Islam dan sipil serta militer.

"Maka pekerjaan rumah Moeldoko adalah membangun kedekatan dengan ulama," ujar dia.

Oleh karena itu, ia berpendapat, jika Moeldoko mendapatkan dukungan dari kalangan ulama dan umat Islam, Moeldoko akan memiliki sekaligus memberikan nilai tambah bagi Jokowi dalam Pilpres.