Jakarta (ANTARA News) - Raut sumringah hingga menitikkan air mata haru, lekat pada wajah-wajah baru gubernur terpilih versi hitung cepat (quick count) dalam pilkada serentak di 17 provinsi, pada 27 Juni 2018.

Semarak wajah gembira juga pasti menghiasi mereka yang menang dalam pemilihan bupati/wakil bupati di 115 kabupaten dan wali kota/wakil wali kota terpilih di 39 kota, yang dilakukan serentak juga pada Rabu yang dinyatakan sebagai hari libur nasional ini.

Tulisan ini membatasi pada hasil hitung cepat untuk pemilihan gubernur di 17 provinsi, yakni di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Wajah sumringah terpancar dari pasangan Letjen (Purn) Edy Rahmayadi dan Musa Rajekhsah yang terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara versi hitung cepat dari LSI Denny JA dengan meraih 57,07 persen dari 98 persen suara yang telah masuk hingga pukul 16.25 WIB, menyisihkan pasangan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus yang hanya meraih 42,93 persen suara.

Bila Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara menetapkan hasil resmi yang tak berbeda dengan hasil hitung cepat itu berarti ini merupakan kekalahan kedua bagi Djarot dalam setahun terakhir yakni dalam Pilkada 17 Februari 2017 di DKI Jakarta dan Pilkada 27 Juni 2018 di Sumatera Utara. Salah seorang Ketua DPP PDI Perjuangan itu tak mampu melanjutkan tugasnya di pemerintahan provinsi setelah menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta 17 Desember 2014 hingga 9 Mei 2017, Pelaksana Gubernur DKI Jakarta dari 9 Mei sampai 15 Juni 2017, dan Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Juni hingga 19 Oktober 2017.

Sebaliknya, "pengorbanan" Edi melepas jabatan strategis di TNI sebagai Panglima Kostrad dan Ketua Umum PSSI membuahkan hasil untuk mengabdi bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Sumatera Utara, didampingi oleh Musa yang berlatar belakang pengusaha.

Edi-Musa diusung oleh Partai Gerindra, Golkar, PAN, PKS, Nasdem, dan Hanura, sedangkan Djarot-Sitorus hanya diusung oleh PDI Perjuangan dan PPP.

Hasil hitung cepat vresi Polmark Indonesia menunjukkan pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Riau, Syamsuar-Edy Nasution, memenangi pemilihan dengan perolehan suara mencapai 38,17 persen. Mereka diusung oleh PAN, PKS dan Nasdem.

Sementara tiga pasangan lain, masing-masing, Lukman Edy-Hardianto yang diusung oleh Gerindra dan PKB meraih 17,25 persen, Firdaus-Rusli Effendi yang diusung oleh Partai Demokrat dan PPP mendapat 20,23 persen, dan Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno mengantongi 24,35 persen. Arsyadjuliandi selaku petahana gagal memperpanjang kekuasaannya untuk periode kedua.

Kemenangan tipis diraih pasangan Herman Deru - Mawardi Yahya (PAN, Nasdem, dan Hanura) dalam pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Selatan dengan 35,98 persen, dibanding pasangan Dodi Reza Alex Noerdin - M Giri Ramanda (PDIP, Golkar dan PKB) dengan 33,22 persen, Ishak Mekki - Yudha Pratomo (Demokrat, PPP, dan PBB) dengan 19,66 persen, dan Saifudin Aswari Rivai - M Irwansyah (Gerindra dan PKS) dengan 11,14 persen dari 94,46 persen suara yang telah masuk.

Dua lembaga kajian, Cyrus Network dan Rakata Institute, yang melakukan hitung cepat untuk pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Lampung, menunjukkan bahwa pasangan Arinal Djunaidi-Chusnunia (Golkar, PKB, PAN) sementara unggul dengan perolehan suara 41,7 persen dan 37,59 persen.

Mereka mengalahkan pasangan petahana yakni M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri (Demokrat, Gerindra, PPP) sebesar 23,0 persen dan 22,79 persen, dan pasangan Herman HN-Sutono (PDIP) sebesar 22,3 persen dan 27,04 persen, serta pasangan Mustafa-Ahmad Jajuli (Nasdem, PKS, dan Hanura) 12,9 persen dan 13,01 persen.


Sujud syukur dan menangis

Mantan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil langsung sujud syukur dan menangis sesaat sebelum menyampaikan pidato kemenangannya bersama mantan Bupati Tasikmalaya UU Ruzhanul Ulum (Nasdem, PPP, Hanura, PKB) saat hasil hitung cepat perolehan suara terbanyak berpihak kepada mereka, dengan mengantongi 32,54 persen suara versi Litbang Kompas dan 33,65 versi LSI Denny JA.

Sementara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Gerindra, PKS, PAN) meraih 29,53 persen dan 28,41 persen diraih Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Demokrat dan Golkar), dan terakhir Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan (PDIP) hanya meraup 12,2 persen dan 12,46 persen.

Petahana Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melenggang masuk ke periode kedua, bersama Taj Yasin (PDIP, Golkar, Nasdem, PPP, Demokrat) dengan perolehan 59,52 persen, menggungguli lawan mereka yakni pasangan Sudirman-Ida Fauziah (Gerindra, PKS, PAN, PKB) dengan 40,48 persen versi LSI Denny JA.

Suasana haru juga mewarnai hasil hitung cepat pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Jatim. Akhirnya, setelah dua kali gagal, usaha yang ketiga kali ini berhasil diraih oleh Khofifah ketika berduet bersama Emil Dardak (Demokrat, Golkar, PPP, Nasdem, Hanura, PAN) dengan 54,24 persen.

Khofifah mengalahkan lawan setianya, yakni Saifullah Yusuf yang telah dua periode menjabat Wagub Jatim. Cagub Saifullah yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno dan diusung oleh PDIP, PKS, Gerindra, dan PKB, hanya mengantongi 45,76 persen versi LSI Denny JA.

PDI Perjuangan masih mendominasi dalam pemenangan pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Bali, dengan mengantarkan pasangan mereka, Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, yang juga diusung bersama PKB, Hanura, PAN, dan PKPI dengan 58,25 persen dari hasil hitung cepat versi SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting).

Koster-Tjok mengalahkan pasangan Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta (Golkar, Nasdem, Demokrat, Gerindra, PKS, dan PBB) dengan 41,75 persen.

Hitung cepat versi LSI Denny JA untuk pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur NTB, menunjukkan hasil sementara, pasangan Zulkieflimansyah-Siti Rohmi Djalilah (Demokrat, PKS) mengantongi 30,16 persen, M Suhaili FT- Muhammad Amin (Golkar, PKB, Nasdem) dengan 28,86 persen, Ahyar Abduh-Mori Hanafi (PBB, Hanura, PAN, PDIP, PPP, Gerindra) meraih 24,47 persen suara, dan Ali bin Dachlan-TGH Lalu Gede Sakti (perseorangan) mendapat 16,22 persen.

Sementara untuk pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur NTB, perolehan suara terbanyak dari hitung cepat versi Indo Survey dan Strategy, diraih oleh pasangan Viktor B Laiskodat-Josef Naesoi (Golkar, Hanura, Nasdem) dengan 37,04 persen suara.

Mereka mengalahkan tiga pasangan lainnya, yakni, pasangan Marianus Sae-Emelia Julia Nomleni (PDIP dan PKB) dengan 25,61 persen, Benny K Harman-Benny Litelnoni (Demokrat, PKS, PKPI) dengan 18,79 persen, dan Esthon Foenay-Christian Rotok (Gerindra, PAN) dengan 18,55 persen.

Hitung cepat versi LSI Denny JA menempatkan pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Kaltim Isran Noor-Hadi Mulyadi (Gerindra, PKS, PAN) memperoleh 29,77 persen suara, Syaharie Jaang-Awang Ferdian Hidayat (Demokrat, PPP, PKB) dengan 25,11 persen, Rusmadi Wongso-Safaruddin (PDIP dan Hanura) dengan 25,01 persen suara, dan Sofyan Hasdam-Rizal Effendi (Golkar, Nasdem) dengan 20,12 persen suara.

Masih berdasarkan hitung cepat versi LSI Denny JA, pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Kalbar, Sutarmidji-Ria Norsan (Golkar, Nasdem, PPP, PKB, PKS, Hanura) dengan memperoleh 58,29 persen. Sutarmiji sebelumnya menjabat Wali Kota Pontianak sedangkan Ria menjabat Bupati Mempawah, masing-masing dua periode.

Mereka mengalahkan mantan Bupati Sintang Milton Crosby-mantan Wakil Bupati Ketapang Boyman Harun yang hanya mengantongi 7,37 persen suara, serta pasangan mantan Bupati Landak Karolin Margret Natasa dan mantan Bupati Bengkayang Suryadman Gidot (PDIP, Demokrat, PKPI) dengan 34,35 persen.

Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Sulsel, berdasarkan hasil hitung cepat dari Celebes Research Center (CRC), dimenangkan oleh pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (PDIP, PAN, PKS) dengan 44,8 persen. Mereka mengalahkan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (Golkar, Nasdem, PKB, Hanura, PKPI) dengan 28,8 persen, Agus Arifin Nu`mang-Tanribali Lamo (Gerindra, PPP, PBB) dengan 8,93 persen, dan pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (jalur perseorangan) dengan 17,47 persen.

Di Sultra, pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur, hasil hitung cepat versi Jaringan Suara Indonesia (JSI) menunjukkan bahwa Ali Mazi dan Lukman Abunawas (Golkar dan Nasdem) memenangkan pemilihan dengan 44,04 persen suara, Asrun-Hugua (PDIP, PKS, Hanura, Gerindra) mendapatkan 25,07 persen, dan Rusda Mahmud-Sjafei Kahar (Demokrat, PPP, PKB) mendapatkan suara 30,81 persen.

Lembaga survei Konsultan Citra Indonesia (KCI) jaringan LSI Network, menyatakan hasil sementara perhitungan cepat Pilkada Maluku menempatkan pasangan Murad Ismael - Barnabas Orno (PDIP, PAN, PPP, PKPI, PKB, Hanura, Gerindra, Nasdem) dengan meraih 40,63 persen, sedangkan pasangan petahana Said Assagaff dan Anderias Rentanubun (Golkar, Demokrat, PKS) memperoleh 32,10 persen, dan pasangan dari jalur perseorangan Herman Koedoeboen - Abdullah Vanath yang memperoleh 27,27 persen.

Hitung cepat vresi Kedai Kopi (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) untuk Maluku Utara menunjukkan pasangan Ahmad Hidyat Mus dan Rivai Umar (Golkar, PPP) meraih 28,87 persen, Burhan Abdurahman-Ishak Jamaluddin (Hanura, PBB, Demokrat, PKB, Nasdem) 27,72 persen, Abdul Ghani Kasuba-Al Yasin Ali (PDIP, PKPI) 31,28 persen, dan Muhammad Kasuba-Madjid Hussein (Gerindra, PKS, PAN) 12,13 persen.

Sementara di Papua, tidak ada lembaga independen yang melakukan hitung cepat. Pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur yang merupakan petahana, Lukas Enembe dan Klemen Tinal (Golkar, Demokrat, Partai Nasdem, Hanura, PAN, PKB, PKS, PKPI, dan PPP) optimistis dapat memenangkan pemilihan dan mengalahkan pasangan John Wempi Wetipo (mantan Bupati Jayawijaya) dan Habel Melkias Suwae (mantan Bupati Jayapura) yang diusung PDIP dan Gerindra mengantongi.

Semua hasil hitung cepat itu bukan merupakan hasil resmi karena KPU yang merupakan lembaga paling berwenang menetapkan perolehan suara dan pasangan calon yang memenangkan pemilihan.

Hal yang bisa dipastikan bahwa pemilihan tersebut menunjukkan bahwa calon dari petahana ada yang berhasil memenangkan kembali tetapi ada juga yang kalah. Sebagian calon yang terpilih berasal dari pejabat bupati atau wali kota, ada pula yang berasal dari petinggi TNI. Edi Rahmayadi merupakan mantan petinggi TNI berpangkat Letnan Jenderal (bintang tiga) pertama yang berhasil menjadi gubernur di luar DKI Jakarta.

Selain itu hasil pilkada di 17 provinsi ini dapat menggambarkan peta politik bagi Pemilu 2019. Mesin-mesin partai politik harus bekerja secara efektif untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya suara dalam pemilu mendatang sedangkan calon presiden harus memiliki basis dukungan yang kuat, antara lain dari para kepala daerah.